Kamis, 28 Mei 2026

Bunda hamil anakku


 

Perkenalkan namaku Jerry usiaku 18 tahun dengan tinggi badan 172 cm dan berat 70 kg. Aku sendiri adalah anak tunggal. Saat ini aku baru saja lulus dari salah satu SMA di kota Surabaya dan sedang belajar intensif untuk menghadapi ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Papaku bernama Martin Tan adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa berusia 41 tahun dengan postur tinggi 175 berat 72 kg. Sedangkan Bundaku yang bernama Asifa Khan adalah wanita keturunan Pakistan berusia 39 tahun dengan postur tinggi 170 cm dan berat 68 kg bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga namun juga memiliki bisnis online baju-baju perempuan yang ia jalankan dari rumah. Percampuran darah Tionghoa-Pakistan inilah yang akhirnya berpengaruh pada fisikku. Aku mewarisi mata sipit khas Tionghoa dari Papaku dan juga hidung mancung khas Pakistan dari Bundaku.


Cantik. Itulah kata pertama tiap teman-temanku melihat Bunda. Mereka selalu berkomentar seperti itu karena paras Bundaku memang rupawan seperti artis Bollywood. Di usianya yang mendekati 40 tahun, kulit Bunda masih terlihat kencang, juga putih dan mulus. Buah dadanya menonjol besar berukuran 36D, pantatnya bahenol, hidungnya yang mancung, sedangkan rambutnya pendek sebahu sehingga lehernya yang jenjang terlihat begitu seksi.



Awalnya aku tidak menaruh perasaan apa-apa, namun semua berubah ketika aku nyelonong masuk ke dalam kamarnya pada suatu hari. Aku kaget sebab di dalam ternyata ibu sedang berganti baju. Terlihat ia hanya mengenakan kutang hitam serta celana dalam hitam yang melekat pada tubuh seksinya. Pemandangan yang menggiurkan sekali.

Lama aku menatapnya. Begitu juga dengan Bunda. Kami sama-sama bengong karena saking kagetnya. Namun, aku sadar duluan. Begitu malu, aku pun langsung menutup kembali pintu kamarnya.

Tak lama, Bunda yang telah selesai memakai pakaian, keluar dan menghampiriku yang sedang duduk di kursi sambil menonton tv. Aku pun segera meminta maaf.

“Maaf, Bun. Tadi nggak sengaja.”

Dia tersenyum. “Iya, nggak papa. Bunda dah tau kok.” Ia berbuat seolah-olah kejadian itu tidak pernah terjadi sehingga membuatku menjadi lega.

Setiap pagi aku melihat Bunda menyapu dan mengepel rumah. Aku sering melihat dua susu montoknya bergelayutan indah di balik baju longgar berbelahan rendah yang sering ia kenakan. Sungguh pemandangan indah walaupun melihat hal itu membuatku tersiksa akibat harus menahan konak dan gelora birahi.

Jika Bunda sedang menyapu atau mengepel rumah, aku sering iseng. Sengaja aku biarkan kakiku berada di lantai walaupun berkali-kali Bunda menyuruhku menaikan kaki ke atas kursi, dengan sengaja aku tidak menuruti perintahnya. Hal tersebut sering membuat Bunda agak kesal walaupun ia tidak pernah marah, ia hanya mencubit pahaku jika aku sudah berbuat demikian.

Aku sih senang-senang saja dicubit olehnya karena jadi punya alasan untuk membalas. Kalau dua mencubit, kubalas dengan menggelitik pinggang Bunda sampai akhirnya kami berdua duduk sambil tertawa bersama di sofa. Ketika aku menggelitik pinggangnya, ibu sering meronta ke sana ke mari sehingga jari-jariku bisa menyentuh susu montoknya secara tidak sengaja. Badannya juga sering pula berlabuh di pangkuanku akibat kegelian karena aku gelitik. Posisi demikian membuatku gelisah sebab aku takut kontolku yang mengeras tegang diketahuinya.

Aku tidak pernah menyangka bahkan tidak pernah merencanakan untuk bersetubuh dengan Bundaku sendiri. Selain seleraku lebih tertuju pada gadis muda seperti teman sekolahku Reva, aku pun menghormati ia sebagai perempuan yang sudah melahirkanku ke dunia. Tapi ternyata apa yang aku bayangkan menjadi kenyataan, aku menggauli Bundaku hampir setiap hari, setiap ada kesempatan.

Kejadian awal bermula ketika Papa pergi dinas ke luar kota selama seminggu. Rumah jadi sepi, hanya tinggal aku berdua bersama Bundaku. Seperti pagi-pagi biasanya, ibu menyapu lantai dan mengepel rumah. Aku yang duduk sambil menonton tv kembali iseng dengan tak mau menaikkan kaki. Bunda yang menyaksikan ulahku itu langsung mengomel.

“Aduh, sayang, kamu bandel amat sih!” ucapnya sambil mengeluarkan jurus mencubit pahaku.

Aku yang mendapat serangan, tentu tak tinggal diam. Kubalas menggelitik pinggangnya. Bunda tertawa kegelian sambil menggelinjang tak karuan. Akhirnya ia memeluk pinggangku erat-erat dengan kepala berada tepat di perutku. Posisi demikian membuat kontolku yang sudah tegang dan keras tertindih oleh susunya yang montok. Sungguh membuat darahku berdesir. Birahiku menjadi naik namun masih dapat aku kendalikan.

Masih dalam posisi demikian, Bunda akhirnya menyerah dan memintaku menghentikan gelitikan. Aku pun berhenti. Ia kemudian melepas pelukannya pada pinggangku, lalu ia bersandar di kursi sambil terengah-engah kecapekan. Tampak keringat membasahi wajahnya yang cantik. Aku terpana melihatnya, Bunda nampak seksi dan bercahaya.

Ia mengusap-usap lembut kepalaku sambil tetap duduk bersandar. Aku pun tak tinggal diam, aku lap keringat di wajah dan keningnya. Ia tersenyum manis melebihi biasanya. Tiba-tiba entah dorongan dari mana, aku berani mencium kening Bundaku sendiri. Yang aku rasakan, secara tiba-tiba aku menjadi sayang kepada Bunda dan menjadi ingin lebih dekat dengannya.



Mendapat perlakuan demikian, Bunda tidak marah. Malah ia menyentuh lembut pipiku dan tanpa kusangka diteruskan dengan mencium lembut bibirku. Mendapat rambu tersebut, aku pun balas mencium bibirnya sampai akhirnya kita saling berpagutan.

Awalnya memang ciuman biasa, tapi setelah cukup lama, tiba-tiba lidah Bunda menerobos masuk ke dalam mulutku. Hal tersebut tidak aku sia-siakan, cepat kuusap-usap lidahnya dengan lidahku dan mengenyot lidahnya lembut. Bunda melingkarkan kedua tangannya melingkari leherku, membuat tanganku mulai berani menjamah susunya yang montok. Sambil tetap berciuman, kuusap memutar dan kuremas-remas lembut susu Bunda.

“Sssssshhhhhh eeeehhhhmmmm…” desahnya.

Terasa hangat hembusan napas ibu saat ia melepas bibir bawahnya untuk menarik napas. Ciuman kami sudah semakin panas, juga bertambah liar dan basah. Tak cuma bibir, aku juga mencium dan menjilati leher Bunda yang basah oleh keringat dan juga anting-anting emasnya yang cantik. Bunda menjadi semakin bernafsu, tangannya tak lagi melingkari leherku, melainkan sudah meremas-remas kepala serta rambutku.

Secara perlahan, kubuka kaos putih yang ia pakai. Tampak kutang hitam favoritnya yang pernah aku lihat tempo hari. Bunda hanya diam, pasrah, bahkan cenderung meminta. Segera aku jilati bagian atas susunya yang tidak tertutup kutang. Kuhisap dan kukenyot-kenyot perlahan hingga membuat Bunda menjadi gelisah karena birahi yang semakin memuncak.

“Buka saja, sayang!” Dia mendesah, memintaku agar segera menelanjangi dirinya.

Dengan tangan gemetar kubuka kutang itu untuk memudahkanku memainkan bulatan susunya. Kulit Bunda yang putih membuat areola yang melingkar di tengah susunya tampak menggiurkan; berwarna coklat muda kemerah-merahan. Namun sayang, putingnya kecil sehingga hanya sedikit menonjol walaupun sudah menjadi keras di tengah susunya yang padat dan kenyal.

“Cuma mau megang? Nggak mau nyium?” tawar Bunda.



Mengangguk mengiyakan, aku langsung menghisap, menjilat, dan mengenyot-ngenyot dengan lembut susu serta putingnya. Bunda bergerak-gerak gelisah menandakan birahinya sudah semakin memuncak, sampai akhirnya tangannya sudah berada di atas kontolku di luar celana pendek yang kukenakan.

Bunda mengusap-usap kontolku sedikit kasar. Namun, walau mendapat perlakuan demikian, aku tetap liar memainkan lidah dan mulutku pada kedua susunya yang montok, kenyal, serta padat itu.

Bunda kemudian berdiri melucuti rok pendek dan menurunkan celana dalamnya sendiri. Tampak memeknya begitu tembem tanpa ada bulu sedikitpun.

“Wow, seksinya!” bisikku dalam hati.

Ia kemudian memintaku berdiri dan langsung menurunkan celana pendekku langsung beserta celana dalamnya, kontolku yang berukuran 20 cm sudah sangat keras kontan meloncat menunjuk-nunjuk ke depan. Tampak Bunda kaget melihat kontolku yang besar dan panjang, wajahnya memerah saat menatap.

“Cuma dilihat doang, Bun? Nggak pengen pegang?” tanyaku balik.

Bunda tersenyum. Masih dengan mata tak berkedip, ia mulai menyentuh dan mengusap-usap lembut batang kontolku. Dengan antusias ia memajukan wajah hingga kontolku menempel di bibirnya.

“Eehmm… Bun!” aku merintih saat ibu mulai menciumi batang kontolku. Dan, “Oouughhhh…” aku menjerit begitu masuk terkulum mulutnya.

Bunda semakin liar bermain dengan kontolku, ia terus menjilat dan memaju-mundurkan kepala. Ibu ternyata mahir juga sehingga kontolku tidak pernah menyentuh giginya. Tak terlewatkan kepala kontolku ia kenyot-kenyot lembut sambil tangannya meremas biji pelerku. Tampak ia begitu berpengalaman mengoral kelamin laki-laki.

Sempat muncul berbagai pikiran dalam otakku, “Aneh, Bundaku yang terlihat seperti wanita baik-baik, yang tidak suka keluyuran serta lugu ini, begitu pandai mengoral kontol. Apa mungkin ia sering menonton film bokep ya? Atau, ia mungkin sudah sering melakukannya!”

Melihat Bunda yang sudah kelelahan, kuminta dia agar duduk sambil membuka kakinya lebar-lebar. Ia pun menuruti kemauanku.

Terlihat memeknya yang tembem tanpa bulu. Aku segera menjilati memek itu dengan perlahan dan lembut, mulai dari liangnya yang kecil sampai itilnya yang menonjol kaku. Hampir seluruh kulit tubuh Bunda menjadi merah ketika aku semakin cepat mempermainkan lidah dan mulutku pada belahan memeknya.

“Aaaaaaaeeeeehhhhhh ssssshhhhh…” desah Bunda sambil tubuhnya tak bisa diam, terus bergerak kian kemari akibat mendapat sensasi nikmat pada lorong memeknya.

Kucoba mencolokkan jari tengahku ke liang memek yang sudah sangat basah itu, peret sekali dan agak sulit. Kugerakkan perlahan-lahan sambil mulutku terus mengenyot dan menjilat, itil Bunda kurasakan sudah sangat mengeras. Dia semakin mendesah dan mengerang sambil tangannya mencengkeram agak kuat rambut serta kepalaku.

“Eeeemmhhhh, ooouuuuuuhhhhh… eeessssshhhhhhh!” rintihannya membuat suasana semakin panas.

Aku terus menjilat, menghisap, dan mencucup itilnya berkali-kali, terkadang dengan kenyotan agak kuat, sedangkan jari tengahku sudah semakin leluasa mengocok liang memeknya. Perlakuan demikian berlangsung hampir 15 menit hingga Bunda mencapai orgasmenya.

“Aaaaaaaaahhhhh, ooooouuuuhhhhh…!” erangnya keras. Tangannya mencengkeram kuat kepalaku, menekan pada belahan memeknya yang berkedut-kedut hebat sambil tubuhnya menggelinjang ke sana-kemari.

Cairan kenikmatannya menyembur deras, membasahi tangan serta daguku. Perlahan kutarik jari tengah dari dalam lubang memeknya. Terdengar nafas ibu masih terengah-engah.

“Mau dilanjutkan, Bun?” aku bertanya.

Bunda hanya mengangguk, tak bisa bersuara.

Kuminta dia agar menungging. Tanpa banyak basa-basi, Bunda segera berbalik dan menekuk tubuhnya, kini dia menungging di sofa. Aku berdiri di belakangnya, tersenyum, merasa senang karena bisa leluasa melakukan penetrasi ke dalam liang memeknya.

Sambil tangan kananku mencengkeram pantat bulat Bunda yang bahenol, kuarahkan kontolku menuju lubang memeknya. Cukup sulit kepala kontolku memasuki lubang itu, terasa peret dan sempit sekali.

“Nggak bisa masuk, bun.” aku berkata.

“Dorong terus! Nanggung!” Ibu mendesah.

Dengan satu dorongan kuat, aku melakukannya. Bunda membantu dengan membuka belahan memeknya lebih lebar lagi. Kutusuk sekuat tenaga hingga kontolku melesak, terbenam di liang memek Bunda yang sempit.

“Aagghhhh…” kami sama-sama melenguh meski baru kepala kontolku yang masuk.

“Dorong lagi, sayang!” Ibu berkata.

Aku mengangguk. Dengan bantuan cairan memek dan sisa cairan orgasmenya, kontolku kembali meluncur masuk. Memek Bunda terasa mencengkeram kuat dan masih agak peret ketika kontolku sudah terbenam seluruhnya.

“Kamu sudah nggak perjaka lagi, sayang. Hihi…” Bunda tertawa.

Aku tersenyum. “Aku senang melakukannya bersama Bunda!”

“Nah, sekarang goyang. Puaskan Bundamu ini!” Dia meminta.

Dengan perlahan, aku mulai menggoyangkan pinggul. Awalnya agak sedikit kaku. Tapi dengan bimbingan Bunda dan arahan darinya, tak lama aku mulai lancar. Dari gerakan melingkar, aku pun mulai memaju-mundurkan kontolku secara perlahan. Menyetubuhinya!

“Aagghhhh… terus, sayang! Tusuk yang keras! Terus!” Ibu merintih, menggelinjang keenakan.

Begitu juga denganku, kurasakan liang memek Bunda sudah dapat menyesuaikan dengan kontol besar dan panjang milikku. Aku jadi lebih leluasa dalam menyetubuhinya.

“Eeeemmmm eeeemmmhhh… enak! Terus, sayang!” desah Bunda.

Aku semakin semangat memompakan kontol. Sambil berpegangan pada bokong bulat ibu, kutambah kecepatan ayunan sehingga bunyi plok plok plok menjadi kian gencar dan keras.

“Aaaaahhhhhhh, aaaaaeeeeehhhhhh… ssssshhhhh, ooooouuuhhhh!” desah ibu seiring gerakanku yang semakin cepat.

Kini kedua tanganku meremas-remas agak kuat pantat bulatnya, juga sesekali menyambar bongkahan payudaranya yang bergelantungan indah. Terdengar desahan dan erangan Bunda semakin liar membahana karena nafsu birahi, dia sepertinya tak peduli jika teriakannya akan terdengar oleh tetangga.

Tampak Bunda mulai menggoyang-goyangkan pantatnya. Dengan kecepatan penuh aku kocok terus memeknya dengan kontolku.

“Sayang, aku keluar! Aaaaaaooooouuuhhh, oooooouuuuuwwww, sssssshhhh!” erang ibu saat mendapat orgasme kedua.

Kuhentikan gerakan sejenak, kunikmati kedutan-kedutan memek Bunda pada batang kontolku yang masih terbenam kuat. Terasa kontolku seperti diremas-remas, sungguh nikmat sekali.

Ketika gelora orgasme Bunda sudah mereda, aku segera menelentangkan tubuhnya. Dengan penuh pengertian Bunda merentangkan kakinya lebar-lebar supaya aku lebih leluasa menusukkan kontolku ke dalam lubang memeknya.

Bibir memeknya masih memerah. Hanya memandang sudah membuatku menelan ludah. Sungguh indah sekali. Tanpa bulu, tembem, dan merekah basah.

“Ayo, sayang! Tunggu apa lagi?” kata Bunda, tersenyum.

“I-iya, Bun!”

Kutindih tubuhnya, kuarahkan kontolku tepat ke lubangnya yang mungil. Dengan mudah aku masuk. Sambil memeluk dan menciumi bibir Bunda, aku mulai bergerak maju mundur. Goyanganku membuat kedua susu montok ibu bergoyang-goyang turun naik. Indah sekali.

“Aaaaaaeeeeehhhh, eeeehhhmmmmm, oooooouuuuuhhhh!” desah ibu.

Aku terus mengocok kontol dengan cepat ke dalam liang memeknya. Terlihat mata Bunda terpejam, mulutnya menganga sambil tak henti-hentinya mengeluarkan desahan yang sangat sensual.

Aku raih kedua susunya yang bergoyang-goyang indah itu. Kuremas-remas, terasa begitu montok, padat, dan kenyal. Aku terus memeganginya, mengkombinasikan remasan lembut dan cengkraman kuat sambil terus memaju mundurkan pinggul. Kontolku menembus lubang memek Bunda dengan sangat cepat.

“Ooughhh, sayang! Aauughhh!” Dia menggelinjang di atas kursi. Matanya terpejam, pipinya nampak semakin memerah, sementara mulutnya menganga sambil tak henti-henti mengeluarkan desahan serta erangan.

Aku yang terus memompakan kontol mulai merasakan gatal dan geli di kepala kontol, menandakan sebentar lagi orgasmeku akan segera tiba.

“Aaaaaaoooouuuwwww, aaaaaaahhh… aku keluaaaar!” erang ibu, sambil memeluk tubuhku erat. Ternyata dia sudah mendahului.

Hampir berbarengan dengan orgasmenya, aku pun menjerit juga. Badanku terkejang-kejang, sementara cairanku menyembur deras memenuhi liang rahim Bunda. Kami berpelukan, berciuman, menikmati saat-saat indah itu.

Lama tidak ada yang bergerak, dengan kontolku tetap menancap di belahan memeknya, sampai akhirnya aku bangkit. Kucabut kontolku dari jepitan memek Bunda. Terlihat begitu banyak sperma mengalir keluar dari celah belahannya yang sempit.

“Terima kasih, Bun.” Aku berbisik, kembali mencium bibirnya.

“Bunda yang harusnya terima kasih.” Dia tersenyum, lalu mengajakku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Di sana, sambil menyabuni tubuh montok Bunda, aku mendengarkan pengakuannya. Ternyata dia rela menyerahkan tubuhnya karena sudah tidak tahan lagi. Sudah setahun ini Bunda tidak mendapatkan nafkah batin yang cukup dari Papa.

“Kok bisa, bun?” tanyaku sambil mengurut-urut bulatan payudaranya.

“Papamu suka loyo, kontolnya kadang bisa ngaceng kadang enggak!” jawab Bunda.

“Oo pantes!” Aku memeluk tubuhnya. “Kalau gitu aku siap jadi pengganti Papa. Bunda mau?”

Bunda tidak menjawab. Tapi dari kakinya yang mengangkang, siap untuk kusetubuhi, aku tahu jawaban yang ia berikan. Aku pun kembali memasukkan kontolku ke memeknya yang masih licin akibat cairan kami berdua.





“BLESS BLESS OHH OHH OHH!”. Erangku menahan kenikmatan.

Bunda sendiri hanya hanya mendesah menikmat sodokan penisku. Aku pun mencium bibirnya, lehernya, anting-anting di telinganya dan juga kedua payudaranya yang super montok. Aku begitu bergairah pada permainan kedua ini. kusodok memek Bundaku dengan penuh nafsu.

“OHH OHH OHH Bunda Nikmat Bunda OHH OHH OHH!”. Erangku padanya.

“Iya sayang Bunda juga nikmat OHH OHH OHH!”. Balasnya padaku.

Permainan kedua ini berlangsung cukup panas. Kami pun berganti-ganti gaya dari mulai aku misionaris, women on top, doggie style, dan juga posisi menyamping. Semua begitu nikmat dan menghanyutkan.

Tak terasa 45 menit sudah berlalu. Bunda sendiri sudah 3 kali orgasme. Spermaku juga sudah terasa akan keluar. Dalam posisi misionaris ini aku pun menyodok memeknya lebih dalam lagi sampai menyentuh rahim Bunda. Setiap kontolku menyentuh pintu rahimnya aku merasakan rasa nikmat yang teramat sangat. Sempat terpikir olehku bagaimana kalau nanti Bunda hamil akibat semburan spermaku di dalam rahimnya? Namun karena sudah kepalang tanggung aku mengesampingkan hal tersebut, yang penting nafsuku harus tuntas kali ini. perkara hamil atau tidak itu urusan nanti yang penting aku ingin mendapatkan kenikmatan maksimum dari Bundaku yang cantik bahenol dan berdarah Pakistan ini.

“OHH OHH BUNDA AKU MAU KELUAR TERIMALAH BENIH ANAKMU INI OHHH CROOTTT CROOTTT CROOTTT CROOTTT CROOTTT!”. Teriakku sambil menyemburkan sperma ke rahim Bunda dengan kuat.

“OHH JERRY SAYANG BUNDA JUGA KELUAR AHH AHH CREEETT CREEETT CREEETT!”. Sahut Bundaku yang juga sudah mencapai orgasmenya.

Akhirnya aku pun ambruk menindih tubuh Bundaku. Nafasku terengah-engah karena kelelahan begitu juga dengan Bunda. Setelah lebih tenang aku mendongakkan kepalaku sedikit sambil menatap wajah Bunda. Kulihat ia begitu bahagia sekali terbukti dengan tatapan matanya yang berbinar-binar melihat anaknya berhasil memberikan kenikmatan seks padanya. Kami pun berciuman mesra sambil berpelukan erat. Entah kenapa dalam posisi seperti ini rasa sayangku pun muncul terhadap Bunda. Aku seakan tidak ingin melepaskan Bunda dariku. Aku ingin memiliki Bunda seutuhnya. Inikah yang dinamakan jatuh cinta? Ya rupanya aku jatuh cinta dengan Bundaku sendiri.

“Bunda makasih ya, aku puas banget hari ini main sama Bunda”. Kataku padanya.

“Bunda juga terima kasih sama kamu Jer”. Balas Bunda padaku.

“Aku sayang Bunda, aku gak mau kehilangan Bunda, I love you Bunda…CUPP”. Kataku sambil memeluknya erat dan mencium bibirnya yang lembut.

Bunda juga sayang kamu Jerry, love you too anakku sayang…CUPP”. Timpal Bunda yang juga membalas perkataan dan juga ciumanku.

Setelah berpelukan dan berciuman mesra, aku tersadar apa yang aku lakukan. Ya aku telah mengeluarkan spermaku ke rahim Bunda dengan sangat banyak selama dua ronde persetubuhan kami tadi. Bagaimana jika Bunda hamil? Lalu bagaimana dengan Papa? Karena penasaran aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu padanya sekarang.

“Bunda”.

“Iya sayang”.

“Tadi spermaku aku keluarin di rahim Bunda”. Kataku merasa bersalah sambil menundukkan kepala.

“Gak apa-apa sayang, namanya juga masih perjaka, wajar”. Balas Bunda sambil mengusap kepalaku dengan lembut.

“Terus, kalo nanti Bunda hamil gimana?”. Tanyaku padanya.

“Justru Bunda pengen punya anak lagi sayang, sebenarnya dari dulu Bunda pengen punya anak lebih dari satu, tapi tau sendiri kan Papa kamu sering sibuk sama bisnisnya, apalagi sekarang performa seksnya udah menurun jauh, makanya Bunda gak bisa ngasih kamu adik”. Curhat Bunda sedih.

“Tapi Bun, kalo nanti Bunda hamil benihku terus nanti aku mau panggil dia apa? Kan dia lahir dari rahim Bunda juga sama kayak aku?”. Tanyaku bingung.

“Ya berarti kamu bakalan jadi Papa sekaligus kakak buat bayi di rahim Bunda nanti, apalagi Bunda sekarang lagi subur-suburnya. Kalo spermamu bisa membuahi Bunda hari ini, tahun depan kamu bakalan dapet adik baru sekaligus jadi Papa kandungnya hihihi”. Balas Bundaku sambil tertawa kecil dengan tatapan mata berbinar-binar ke arahku.

Mendengar kata “lagi subur” dari Bundaku otomatis membuat kontolku menegang kembali. Ah aku lanjut main ronde ketiga. Bunda yang menyadari pergerakan kontolku di memeknya mulai tersenyum. Dia tahu bahwa aku menginginkannya lagi.

“Aduh anak Bunda, kok kontolnya ngaceng lagi sih? Gak kasian apa sama Bunda yang udah kecapean gini hihihi”. Kata Bundaku merajuk manja.

“Abis sih, tadi Bunda ngomong “lagi subur”, jadinya kontolku ngaceng lagi deh OHH OHH OHH”. Balasku sambil kembali menyodokkan penisku ke dalam rahimnya.

“Dasar anak nakal, yaudah tuntasin gih nafsumu sekarang sama Bunda, tapi inget ya ini yang terakhir, Bunda masih banyak kerjaan soalnya”. Sahut Bundaku.

Aku pun melanjutkan permainanku. Hampir 30 menit kami bermain. Saat akan klimaks. Kucium anting-anting emas di telinganya lalu kusemprotkan sisa-sisa spermaku ke rahimnya, Bunda pun juga klimaks sambil memelukku erat-erat. Setelah permainan selesai kami pun bergegas untuk membersihkan diri di kamar mandi lalu keluar memakai baju dan beraktivitas seperti biasa. Malamnya bisa ditebak, Bunda mengajakku tidur di kamarnya tapi kami tidak “gituan” karena Bunda beralasan capek mengurus rumah seharian dan juga bisnis onlinenya. Aku pun mengerti dan hanya tidur bersama tanpa mengajaknya berhubungan seks.

Semenjak peristiwa itu, aku bagaikan kecanduan seks dengan Bunda. Hampir setiap hari kami berhubungan seks layaknya suami istri bahkan ketika Papa berada di rumah. Seringkali di waktu malam ketika selesai berhubungan seks dengan Papa, Bunda seringkali menyelinap ke kamarku dan mengajakku berhubungan seks kembali karena ia beralasan Papa tidak mampu memberinya kepuasan seks yang maksimum seperti yang biasa dia nikmati dariku. Aku senang mendengarnya dan selanjutnya kami akan berhubungan seks sampai menjelang pagi dan Bunda akan kembali ke kamarnya agar Papa tidak curiga.

4 bulan sudah aku dan Bunda menjalani hari-hari dengan penuh cinta. Selain menjalani hubungan terlarang dengan Bundaku, aku tetap belajar untuk mempersiapkan diri masuk PTN. Bunda ketika sehabis bercinta denganku selalu menyemangatiku untuk giat belajar agar cita-citaku tercapai. Hari ini di waktu malam tibalah saatnya pengumuman seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Dengan perasaan deg-degan aku masuk ke kamar dan membuka laptop dan kuaktifkan modem agar dapat membuka website pengumuman dan kumasukkan nama dan no ujianku. Aku berharap diterima di PTN di kotaku ini supaya aku tidak perlu berpisah dengan Bunda. Setelah kumasukkan semua dataku dan kulihat hasilnya ternyata aku diterima di PTN favorit di kotaku. Aku pun merasa senang sekali saat itu. Aku pun langsung keluar kamar mencari Bunda yang ada di kamarnya untuk memberitahukan kabar gembira ini.

Sewaktu pergi ke kamarnya kulihat Bunda tidak ada disana. Aku langsung bergegas ke dapur dan kulihat Bunda sedang muntah-muntah di wastafel dapur. Ketika selesai Bunda langsung berbalik badan menatapku sayu dan wajahnya yang cantik itu terlihat sedikit pucat. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk Bunda dan memberitahukan kabar gembira ini.

“Bunda, aku diterima di Universitas xxxx, Jurusan xxx”. Kataku sambil memeluknya erat.

Selamat ya sayang, akhirnya anak Bunda tercapai juga cita-citanya”. Katanya sambil menatapku sayu.

“Bunda kok hari ini keliatan pucat banget, Bunda sakit ya”. Kataku sambil menemperkan punggung tanganku ke dahinya.

“Gak sayang Bunda gak sakit kok, Bunda cuma hhmmm”. Katanya agak ragu-ragu menjawab pertanyaanku.

“Iya Bunda kenapa, ayo ngomong jangan bikin aku tambah khawatir”. Desakku padanya.

“Bunda hamil Jerry, ini anak kamu”. Jawabnya sambil menempelkan tanganku ke perutnya.

“Beneran Bunda hamil? Tau darimana kalo sekarang lagi hamil”. Tanyaku seakan tak percaya.

“Ini sayang”. Bunda menunjukkan test packnya yang ia kantongi di dasternya dan ada lambang positif yang menandakan ia memang positif hamil.

Mendengar itu aku senang bukan kepalang, kuciumi Bundaku lalu kubawa ia kekamarnya untuk merayakan kebahagiaan kita berdua. Malam itu kami bermain seks dengan panas sampai pagi karena Papa sedang ada di luar kota. Akhirnya setelah selesai kami pun tidur berpelukan telanjang.

Keesokan harinya saat sarapan bersama, aku bertanya pada Bunda tentang Papa. Bunda hanya bereaksi santai bahwa itu adalah urusannya dan aku tidak perlu pusing. Intinya dia punya cara untuk meyakinkan Papa supaya percaya bahwa anak yang ada dalam kandungannya adalah anak dari benih Papa walaupun sejatinya itu adalah benihku. Aku pun lega dan bisa berfokus untuk menghadapi masa perkuliahan yang sebentar lagi akan tiba.

Beberapa bulan kemudian aku pun mulai kuliah dengan menyandang status sebagai seorang mahasiswa baru. Semua masa orientasi sudah aku lalui dan sekarang sudah mulai disibukkan dengan kegiatan perkuliahan.

Menjadi mahasiswa membuatku harus pintar membagi waktu antara perkuliahan dan urusan rumah karena saat ini bayiku yang di dalam perut Bunda juga sudah semakin membesar dan Papa memintaku untuk menjaga Bunda ketika dia tidak ada di rumah. Aku menyanggupinya dan berusaha untuk selalu memperhatikan Bunda di sela-sela kesibukanku.

Mengalami kehamilan setelah 18 tahun lamanya membuat Bunda menjadi lebih sensitif, seringkali aku di buat kewalahan dengan permintaannya ketika mengidam. Namun satu hal yang pasti, Bunda menjadi lebih seksi ketika hamil dan kami tetap berhubungan seks walaupun tidak sesering sebelumnya mengingat kondisi Bundaku yang sedang hamil kali ini. Kehamilan Bunda membuatku menjadi semakin mencintai dan menyayanginya.

Setelah 9 bulan mengandung, akhirnya Bunda melahirkan bayi kembar laki-laki tepat di usianya ke 40 tahun. Papa pun menyambut kelahiran bayi kembar tersebut dengan sukacita karena setelah 19 tahun akhirnya ia bisa memiliki anak lagi di usianya yang ke 42 tahun. Bayi tersebut diberi nama Brando dan Nicholas. Aku sendiri begitu bahagia karena dapat menjadi “kakak sekaligus ayah” bagi kedua adik kembarku. Fisik mereka berdua juga terlihat tampan khas Peranakan Tionghoa-Pakistan.

Namun ada sedikit keanehan di antara mereka berdua. Ya penis kedua “adikku” ini sedikit lebih besar dan panjang dari bayi-bayi pada biasanya. Di saat Papa sedang keluar kamar pasien, aku dan Bunda pun menanyakan pada dokter tentang kondisi kedua adikku. Dokter mengatakan itu adalah bawaan genetik sehingga penis mereka berdua terlihat sedikit lebih besar dan panjang. Namun ia mengatakan tidak perlu khawatir karena itu masih dalam kategori normal namun ia tetap berpesan untuk tetap memonitor kondisi perkembangan Brando dan Nicholas. Aku dan Bunda mendengarkan pesan dokter sambil mengangguk-angguk.

“Bunda, aku takut kalau kedua anak kita ada kelainan”. Kataku pada Bunda.

”Udah tenang aja sayang, yang penting kita monitor terus kondisi mereka berdua, mudah-mudahan aja itu cuma bawaan genetik, lagipula waktu kamu lahir dulu juga kontolmu juga lebih besar dan panjang kayak mereka berdua. Hasilnya kan sekarang kamu tetap tumbuh normal kayak anak biasa walaupun ukuran kontolmu tetap gak biasa buat Bunda hihihi”. Kata Bunda menenangkanku sambil tertawa kecil.

Aku pun hanya tersenyum mendengar kata-kata Bunda lalu menghadiahinya kecupan hangat di dahinya. Bunda pun membalas dengan senyuman manis sambil memegang pipi dan rambutku.

Setelah beberapa bulan kemudian, ternyata ketakutanku terhadap kedua “adikku” akhirnya tidak menjadi kenyataan. Brando dan Nicholas secara fisik dan mental tumbuh normal layaknya anak-anak normal pada biasanya. Aku pun lega tidak melihat kecacatan fisik maupun mental dari mereka berdua walaupun terlihat ukuran celana dalam mereka agak lebih besar karena harus menampung penis mereka yang agak besar.

Aku pun berniat menghamili Bunda lagi. Aku ingin memiliki anak sebanyak-banyaknya dari wanita cantik keturunan Pakistan yang telah melahirkanku 19 tahun lalu. Sudah kuutarakan niatku itu padanya. Bunda pun tersenyum dan menjawab tunggu Brando dan Nicholas agak besar dulu, baru nanti ia akan bersedia hamil lagi dariku. Aku pun sudah tidak sabar lagi menunggu saat-saat itu dan semoga hal tersebut dapat menjadi kenyataan di masa yang akan datang.

Tamat

Rabu, 27 Mei 2026

indriyani - hamil dengan tukang kebunku





Perkenalkan namaku Indriyani, biasa dipanggil Yani. Usiaku 41 tahun. aku adalah seorang guru di sebuah sma negeri di kota kecil di pinggiran jawa timur. aku mempunyai suami bernama budiawan, umurnya 42 tahun. suamiku seorang pejabat teras di linkungan pemkot tempat kami tinggal.


kami memiliki 2 orang anak, seorang anak laki laki dan seroang lagi perempuan. anakku yg pertama bernama Sinta. umurnya baru 19 tahun, dan sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri di luar kota. sedangkan anakku yg kedua bernama Iwan baru berumur 17 tahun, saat ini kelas 12 dan sedang menyiapkan diri untuk ujian akhir dan seleksi masuk perguruan tinggi.


sedikit deskripsi tentang diriku. aku mempunyai tinggi badan 160 cm dan berat badan 50 kg. tubuhku tdk terlalu kecil tapi juga tdk gemuk, lebih tepat dsebut berisi. kulitku kuning langsat khas wanita dari kotaku. ukuran payudaraku lumayan besar yaitu 36c, meskipun sudah agak kendur setelah hamil dan menyusui kedua anakku.


sehari hari aku memakai baju muslim dengan jilbab lebar yg menutupi dadaku untuk mengajar dan beraktifitas di luar rumah. sedangkan di dalam rumah aku biasa memakai daster untuk pakaian sehari-hari. rumahku berukuran cukup besar dan terletak di pinggiran kota.


karena tuntutan pekerjaan, suamiku yg bekerja di dinas keuangan sering pergi keluar kota, entah itu untuk kunjungan kerja maupun rapat koordinasi. sedangkan anakku yg pertama, Sinta, hanya pulang tiap akhir pekan itupun jika tdk ada kegiatan di kampus atau tugas yg harus diselesaikan.


sedangkan iwan, untuk menghadapi ujian akhir dan seleksi perguruan tinggi lebih sering pulang malam karena harus mengikuti kegiatan tutorial serta bimbingan belajar yg dia ikuti. praktis setiap hari aku lebih sering sendirian di rumah. di rumahku selain keluarga ku, ada seorang asisten rumah tangga dan tukang kebun yg merangkap penjaga rumah yg merupakan sepasang suami istri.


asisten rumah tanggaku bernama mbok minah sedangkan tukang kebunku bernama pak Jono. setiap hari mbok minah bekerja dari jam 5 pagi sampai 6 petang. mbok minah tdk tinggal di rumahku. dia setiap hari pulang pergi dari rumahnya yg tdk jauh begitu pula dengan pak Jono. meskipun begitu ada sebuah kamar kosong untuk pak Jono karena sering harus menginap jika harus menjaga rumah kami.


di lingkungan tempat kami tinggal keluarga kami cukup di hormasti. selain karena background profesiku dan suamiku sebagai guru dan pejabat di lingkungan pemkot. tapi juga karena keluargaku yg selalu menjunjung nilai nilai hidup orang jawa dan agama yg kami anut. meskipun tdk terlalu fanatik, aku selalu mengajarkan anak anakku untuk berbuat baik sesuai aturan agama.


oleh karena itu tdk jarang suamiku diminta untuk memimpin kegiatan di ingkungan kami, begitu juga aku yg menjadi penggerak kegiatan PKK dan pengajian di tempat kami. sebagai seorang istri dan ibu aku berusaha untuk setia kepada keluargaku. sebisa mungkin aku membawa diri dalam pergaulan di lingkungan tempat tinggalku maupun tempat kerjaku. aku selalu berusaha sesopan mungkin dalam bertutur, bertindak serta berpakaian.


semua itu kulakukan demi menjaga keharmonisan dan keutuhan keluargaku. meskipun begitu tdk jarang aku mendapati tatapan laki-laki di sekitarku yg penuh nafsu pada tubuhku. ya meskipun memakai baju muslim saat di luar rumah, nyatanya tdk mampu menutupi seluruh keindahan lekuk tubuhku, terutama payudaraku.


tdk terkecuali pak Jono, lelaki berusia 65 tahun tersebut tdk jarang kupergoki sedang menatap lekat pada tubuhku. terutama saat di rumah karena aku lebih sering memakai pakaian biasa jadi seakan memberi kesempatan lebih besar untuk menikamti tubuhku. aku merasa tdk nyaman akan hal itu dan sudah berusaha bicara pada suamiku.


semua hal yg kulakukan tdk bisa membuat hatiku tenang, setiap saat beraktifitas di rumah aku merasa seperti selalu diawasi gerak gerikku oleh pak Jono. seperti saat sedang merawat tanaman di halaman, aku merasa pak Jono memperhatikanku dari balik kaca gelap jendela dalam kamarnya yg terletak tepat disamping halaman belakang rumahku atau saat aku ke kamar mandi yg terletak lurus dari kamarnya.


semua hal ini justru terus menambah kecurigaanku pada perilaku pak Jono terhadapku. tapi semua itu mungkin juga hanya kupendam dalam perasaanku karena aku belum menemukan bukti nyata kekurang-ajaran pak Jono padaku.


sampai suatu saat. sore itu setelah pulang mengajar aku segera tidur karena lelah mengampu 6 jam pelajaran untuk 3 kelas seharian tadi. aku tidur sangat lelap dan cukup lama. aku terbangun ketika mendengar gemuruh tanda akan hujan. aku teringat jemuran di belakang belum diangkat karena siang tadi mbok minah ijin pulang ebih awal karena kurang enak badan.


ketika berjalan melewati dapur aku melihat pak Jono berdiri di samping tempat jemuran. aku berhenti untuk memperhatikan dari balik jendela dapur apa yg sedang dilakukan pak Jono. pertama kali aku tdk sadar karena pikiranku masih belum terkumpul seluruhnya dan pandanganku masih kabur setelah bangun tidur tadi.


saat itu pak Jono tengah melakukan masturbasi dan yg lebih mengejutkanku adalah pak Jono menggunakan celana dalamku yg sedang di jemur untuk masturbasi. pak Jono membungkuskan celana dalamku pada k0ntolnya sambil dikocok kocok dengan satu tangan. tdk hanya itu di tangan yg lain kulihat ada bh hitam milikku yg sedang dia ciumi sambil masturbasi.


aku hanya bisa diam mematung menyaksikan hal itu. aku tdk bisa membaygkan apa yg ada dalam pikiran pak Jono ketika sedang masturbasi menggunakan celana dalam dan bh milikku saat itu. aku hanya bisa menyaksikan detik demi detik, kocokan demi kocokan pada k0ntolnya, serta tiap hirupan nafas pada bh-ku.


aku menyaksikan semuanya yg terjadi hingga pak Jono sampai pada orgasmenya. dia menggunakan cup bh milikku yg diciuminya sedari tadi untuk menampung sperma dari k0ntolnya. lalu dia setelah selesai orgasme dia menggunakan celana dalamku untuk membersihkan sisa sperma di k0ntolnya dan mengelap keringatnya.


tdk jadi mengangkat jemuran, aku segera berlari kembali ke kamarku di lantai 2. di dalam kamar aku terus memikirkan hal yg baru saja kulihat. aku tdk bisa memikirkan apa apa hanya gambaran pak Jono yg sedang masturbasi yg melayg layg dalam pikiranku. aku hanya terdiam sampai ketukan di pintu kamarku mengejutkanku.


segera setelah itu dia berbalik dan berjalan menuruni tangga untuk pulang. aku tdk memperdulikan yg dia katakan, dari tadi aku hanya tertunduk memandangi tonjolan celananya. setelah memastikan pak Jono pergi aku berjalan menuruni tangga dan menuju halaman belakang tempat jemuranku tadi. aku menghampiri pakaian dalamku yg digunakan untuk masturbasi tadi.


tanpa kusadari aku mengambil bh tersebut dan mendekatkannya ke hidungku, aku mencoba menghirup aroma sperma segar milik pak Jono yg baru saja dia tumpahkan ke bh-ku. aroma sperma yg khas itu seakan menghipnotisku dan menggelapkan pikiranku. tangan kiriku mulai masuk kedalam dasterku, merayap di balik celana dalamku.


aku semakin kuat menghirup aroma sperma itu sambil memainkan memekku. aku terduduk di atas rumput halaman rumahku. aku meraih celana dalamku yg berlumuran sperma dan keringat tadi dan meletakkannya di wajahku dan merebahkan tubuhku. aku mulai menjilati sedikit demi sedikit lelehan sperma pada bh ku.


aku tdk menduga hanya dengan masturbasi dengan menghirup dan menjilati sperma bisa membawa orgasme sehebat itu. tanpa kusadari semenjak saat itu aku mulai ketagihan sperma pak Jono. setiap saat aku mengawasi jemuran di halaman belakang untuk menunggu pak Jono melakukan masturbasinya. hampir setiap hari aku masturbasi seminggu sejak kejadian itu aku selalu masturbasi dengan sperma pak Jono.


sensasi sperma milik pria yg bukan suamiku membawa sensasi tersendiri bagiku saat masturbasi. bahkan pakaian dalam bekas masturbasi itu tdk aku cuci tapi justru aku pakai setiap hari. sperma pada bh dan cd yg kupakai membawa sensasi binal saat menyentuh kulit payudara dan memekku.


sejak hari itu pula kau tahu pak Jono sudah lama melakukan hal ini. gelagat pak Jono yg santai saat masturbasi menandakan bahwa dia sudah terbiasa melakukan masturbasi dengan pakaian dalamku. hampir ku pastikan setiap pakaian dalam yg ku miliki pernah dipakai untuk masturbasi.


yg menjadi pikiranku, bagaimana mungkin mbok minah yg hampir tiap hari berada di rumah dan bertanggung jawab atas jemuran tdk menyadri akan hal ini. mungkin pak Jono sudah mengatur strategi dan waktu yg tepat sehingga perbuatannya tersebut tdk diketahui istrinya tersebut. entahlah.


setelah hampir sebulan melakukan kebiasaan masturbasi dengan sperma pak Jono, sedikit demi sedikit rasa bersalah muncul dalam diriku. aku mulai sadar apa yg kulakukan itu salah. semua yg kulakukan telah merusak kehormatan serta kepercayaan dari keluargaku. aku berniat untuk menghentikan semua ini. tapi sejauh aku mencoba setiap aku melihat sperma pada pakaian dalamku, nafsuku berhasil mengalahkan akal sehatku.


jujur aku menikmati semua ini. aku tdk bisa berhenti jika pak Jono masih menggunakan pakaian dalamku untuk masturbasi. aku sadar jika aku ingin menghentikan hal ini aku harus mengatasi sumber masalah ini. semuanya berasal dari pak Jono, jika pak Jono berhenti melakukannya maka aku yakin secara otomatis membuatku berhenti menikmati spermanya. tapi aku tdk tega melaporkannya pada suamiku, aku tdk ingin masalah ini menjadi besar. aku harus mencoba menyelesaikannya sendiri, dan jalan satu satunya aku harus bicara dengan pak Jono.


siang itu aku pulang lebih awal. segera aku mengangkat jemuran yg sudah kering terutama pakaian dalamku. aku sudah berniat untuk bicara dengan pak Jono. tapi pertama kali aku harus menghilangkan kesempatannya untuk bermasturbasi dengan pakaian dalamku. aku membawa semua pakaian dalamku ke kamar sehingga pak Jono tdk bisa masturbasi dengan pakaianku.


itu adalah langkah awal yg kulakukan untuk menghentikan semua perbuatan dosa ini. aku menyiapkan diriku karena setelah ini aku akan segera menemui pak Jono untuk mebahas hal yg sebenarnya memalukan untuk kami berdua. dengan langkah mantap aku menuju kamar pak Jono. kulihat pintu kamrnya terbuka menandakan bahwa dia berada di kamarnya.


tapi ketika sampai di depan pintu kamar pak Jono, aku kembali melihat hal yg tdk kuduga. dengan posisi berbaring dan celana melorot sampai lututnya. kulihat pak Jono sedang mengocok k0ntol hitam miliknya. k0ntol itu jauh lebih besar dari milik suamiku. aku hanya bisa diam menatap pak Jono tersenyum ke arahku.


mempercepat kocokannya sampai dia orgasme memuntahkan sperma putih kental di atas tempat tidurnya. sadar pak Jono melihat ke arah aku segera beralri dari kamarnya.


aku tdk percaya pak Jono berani melakukan masturbasi di hadapanku sendiri. bahkan dengan seakan dengan sengaja memamerkan k0ntolnya padaku. aku berjalan menuju dapur untuk mengambil minum untuk mencoba menenangkan diri. saat sedang menuang air dari dispenser ke dalam gelas, tiba tiba aku merasa sepasang tangan meraba payudaraku dari belakang. hampir saja gelas berisi air yg akan kuminum jatuh ke lantai.


ketika menoleh aku terkejut melihat ternyata pak Jono sudah ada di belakangku. aku berusaha meronta untuk melepaskan diri dari pelukan pak Jono. tapi semakin kuat aku meronta, semakin kuat pula dekapan pak Jono padaku. remasan tangan pak Jono pada payudaraku membuat pikiran ku untuk memberontak semakin tdk fokus. tangan kekar pak Jono dengan kasar meremas remas kedua buah dadaku. sesekali pak Jono menarik narik dan memilin pentil ku dari luar bh.


aku semakin mengendurkan perlawananku karena payudaraku adalah salah satu bagian tubuhku yg paling sensitif. hembusan nafas pak Jono yg mengenai bagian belakang leherku semakin menambah rangsangan pada tubuhku. aku mulai larut dalam alunan nafsu pak Jono, yg sedikit demi sedikit mulai mengambil alih kesadaran ku atas tubuhku.


selesai dengan payudaraku salah satu tangan pak Jono mulai merayap ke bawah perutku. tangan hitam kasar itu mulai mengelus elus selangkanganku dari luar. aku yg saat itu memakai daster terusan lengan pendek tdk kuasa menahan serangan serangan dari pak Jono. pak Jono lalu mulai mengangkat bagian bawah dasterku, ditariknya hingga sampai sebatas pinggulku.


aku hanya bisa menikamti perlakuan pak Jono padaku. mataku terlalu menikmati setiap gosokan pada memekku, sampai sampai aku tdk sadar kancing dasterku sudah terlepas semua hanya menyisakan bh yg masih menutupi payudara besar milikku. jari jari pak Jono mulai menusuk nusuk memekku. memekku yg sudah sangat basah akibat rangsangan tadi semakin memudahkan pak Jono melancarkan aksinya.


saat tangan kirinya berada di memekku, tangan kanannya mengeluarkan buah dadaku dari dalam bh tanpa membukanya terlebih dahulu. jari kasar pak jono menarik narik dan menjepit pentilku. aku semakin terbuai oleh kenikmqtan yg diberikannya padaku apalagi kini jari jari tangannya sudah mengocok memekku secara kasar.


sejak saat itu aku semakin bingung dengan keadaanku. di satu sisi aku telah mengalami pelecehan oleh pak Jono, tapi di lain sisi aku sangat menikmati apa yg dilakukan pak Jono padaku, bahkan aku kecewa saat itu pak Jono menghentikan aksinya di tengah tengah aku menuju orgasme.


saat itu aku terpaksa menahan nafsuku tanpa pelampiasan karena suamiku tdk sedang di rumah, kadang hatiku kecilku berharap bahwa pak Jono akan datang kembali untuk menuntaskan nafsuku. sebenarnya aku ingin melaporkan hal ini pada suamiku tapi entah kenapa aku tdk pernah melakukannya.


setiap hari aku bertemu pak Jono membuatku merasa canggung. kejadian hari itu telah merubah cara pandangku padanya. di balik senyum pak Jono di depanku dan keluarga tersembunyi kilatan nafsu yg besar, terlihat dari tatapan matanya yg kini sudah terang terangan memandangiku. hal ini diperparah dengan fakta bahwa gambaran k0ntol hitam berurat pak Jono selalu melayg dalam pikiranku.


nafsuku semakin menjadi jadi tapi suamiku tdk ada untuk memuaskan nafsuku. aku pernah mencoba bermasturbasi sendiri tapi apa yg kudapatkan jauh berbeda dari apa yg diberikan pak Jono. aku terus mencoba menahan nafsu ku tapi semakin kutahan kurasakan nafsu semakin meledak ledak.


hingga akhirnya pada malam hari itu, saat itu sedang hujan deras. aku dirumah sendirian karena iwan dan suamiku belum pulang. dari dalam kamarku terlihat lampu kamar pak Jono menyala. aku melangkah ragu menuruni tangga menuju lantai satu. tanpa kuperintah kaki ku melangkah membawaku menuju kamar pak Jono.


sesampainya di kamar pak Jono, kulihat pak Jono sedang tidur. aku mendekatinya pelan lalu berjongkok di samping tempat tidurnya. aku mulai mengelus tonjolan di selangkangan pak Jono dari luar celana. aku mendekatkan kepalaku dan mulai menciumi tonjolan itu. aku menghirup bau yg tdk asing, bau sperma yg selama ini di tumpahkan pada pakaian dalamku.


aku mengelus elus tonjolan itu dengan lembut sehingga tdk membangunkan pak Jono. setelah kuelus, tonjolan di celananya semakin besar dan terlihat ingin keluar dari celana. dengan gemetar ku pelorotkan celananya, sampai k0ntol hitam milik pak Jono mengacung tegak dihadapanku. aku mendekatkan mulutku pada ujung kepala k0ntol itu dan mulai menjilatinya.


sedikit demi sedikit aku mulai mengulum k0ntol itu. aku memaju mundurkan kepalaku dan menghisap k0ntol itu pelan pelan. sambil mengulum k0ntol pak Jono tanganku menggosok memekku dari dalam celana. aku sangat menikamti hal itu sampai sampai aku tdk sadar saat tangan pak Jono memegangi kepalaku. ternyata pak Jono sudah bangun, dia hanya menatapku tanpa ekspresi.


aku ditarik ke atas tempat tidur dan dibaringkan diatasnya, sekarang posisi berada dibawah pak Jono. pak Jono lalu memelorotkan rok bawahan daster yg kupakai dan membuka celana dalamku. setelah itu dia membuka kancing baju dan bh ku, dikeluarkannya buah dadaku dari bukaan di bagian depan bajuku. tanpa aba aba dia lalu mencaplok pentil payudaraku, dikulumnya pelan sambil di hisap hisap serta digigit lembut.


aku sangat menikamati perlakuan itu hingga tanpa kusadari celana dalamku sudah tdk pada tempatnya. pak Jono mengarahkan k0ntolnya ke memekku. memekku yg sudah sangat terangsang sampai sampai cairan kewanitaanku membashi celana dalamku. pelan pelan pak Jono memasukkan k0ntolnya. meskipun sudah sempit lagi tapi karena ukuran k0ntol yg besar memek terasa sangat sesak.


setelah masuk seluruhnya pak Jono mendiamkannya dulu, aku merasa memekku terasa penuh diasuki k0ntol pak Jono. k0ntol itu sangat besar jauh lebih besar dari milik suamiku. pak Jono mulai mengocok k0ntolnya dalam memekku. semakin lama kocokannya makin cepat dan liar. sambil menggenjotiku, pak Jono kembali memainkan buah dadaku.


setelah 5 menit digenjot aku sampai pada orgasme pertamaku, tubuhku menegang seperti dialiri listrik. tapi pak Jono belum menandakan orgasme bahkan genjotanya semakin liar dan kasar. selama hampir 30 menit aku terus menerus digenjot pak Jono, selama itu aku mendapatkan 4 orgasme beruntun, yg sebelumnya belum pernah aku dapatkan dari suamiku. genjotan pak Jono semakin tdk beraturan dan tangannya meremas remas buah dadku dengan kasar. nafasnya memburu seperti kuda, keringatnya menetes membasahi tubuh hitamnya.


5 menit kemudian genjotan pak Jono semakin cepat hingga akhirnya tubuhnya menegang bersama orgasmeku yg kelima. dia menyemprotkan sperma putih panas nan kental dalam rahimku. aku berusaha memintanya mengeluarkannya di luar tapi karena terlalu lelah setelah mendapat 5 orgasme beruntun membuatku tdk berdaya melakukan apa apa.


semenjak saat itu kehidupanku berubah, aku yg dulunya wanita terhormat yg setia kini telah jatuh dalam dekapan tukang kebunku layaknya wanita murahan. hampir setiap ada kesempatan aku meminta pak Jono untuk menyetubuhiku. aku sudah kecanduan k0ntol hitam berurat milik pak Jono, aku tdk bisa melewati sehari pun tanpa di temani sodokan sodokan nikmat pak Jono pada memekku.


nafsuku semakin besar seiring perselingkuhanku dengan tukang kebunku di rumahku sendiri. aku berusaha sebisa mungkin menyembunyikan dengan rapat rapat hubunganku dengan pak Jono dari keluargku. suamiku yg jarang pulang dan memuaskanku sekarang tdk masalah bagiku karena selalu ada pak jono yg selalu bersedia memuaskanku.


pak Jono meskipun sudah tua tapi pengetahuan seksnya sangat luas. tdk seperti suamiku yg asal sodok dan minim variasi. selama berhubungan dengan pak Jono aku mendpatkan kenikamtan yg lebih besar dari yg kudapat selam 20 tahun perkawinanku. pak Jono semakin sering bermalam di rumahku terutama saat aku sendirian.


pernah suatu pagi saat sedang bersiap mengajar, di ruang makan tiba tiba pak Jono memelukku dari belakang. disibakkan rok dan celana dalamku, lalu langsung aku disodok dari belakang dengan pakaianku masih lengkap dengan jilbabku. pak Jono menyutubuhi dari bealakang dan aku bersandar pada meja makan.


di dalam dan karena sudah mepet aku berangkat mengjar dengan sperma pak Jono masih meleleh dari memekku.


selama berhubungan dengan pak Jono kami selalu melakukannya di kamarku setiap berhubungan intim bahkan jika malam hari saat suamiku tdk ada pak Jono selalu tidur bersama ku layaknya suamiku sendiri. jika sedang bosan di kamar pak Jono selalu mengajakku berhubungan intim di spot spot rumah kami. ruang tamu, ruang keluarga, dapur kamar mandi.


sejauh ini hubungan perselingkuhanku tersimpan rapat dari keluargaku dan mbok minah, istri pak


Jono. pak Jono pandai mengatur strategi dan memilih waktu yg tepat untuk bebas menyetubuhiku. seperti pagi itu aku sedang disetubuhi di dapur, karena sedang berbelanja mbok minah tdk di rumah. pak Jono yg semalam sudah menyetubuhiku seakan tdk puas dan masih ingin mnyetubuhi ku pagi ini.


karena kupikir tdk ada orang lain di rumah aku melepaskan pakaianku dan membiarkan pak Jono menyetubuhiku dengan posisi berdiri dari belakang. aku menikmati setiap sodokan k0ntol pak Jono di memekku.


tiba tiba di tengah persetubuhan kami pintu belakang dapur terbuka. alangkah terkejutnya aku melihat ternyata mbok minah sudah pulang berbelanja. aku yg masih dalam posisi di genjot dari belakang tdk bisa melakukan apa apa. aku berusaha menutupi tubuhku dari pandangan mbok minah dengan tanganku. bajuku tergeletak jauh dari jangkauanku.


anehnya meskipun ketahuan istrinya pak Jono tdk menghentikan genjotannya pada vagiinaku. entah tdk sadar atau apa, dia seperti tdk menghiraukan kehadiran mbok minah di depan kami. bahkan dia semakin mempercepat genjotannya padaku. begitu pula dengan mbok minah, raut wajah terkejut yg aku pikir akan tergambar di wajah mbok minah tdk terlihat sama sekali.


dengan tenang mbok minah meletakkan belanjaan di meja dapur dan mengeluarkan belanjaan satu persatu.


belum hilang rasa bingungku, mbok minah berjalan kearahku dengan menggenggam sebatang pare. pak Jono melepas k0ntolnya pada memekku dan mengarhkan ke lubang anusku. tanpa aba di segera melesakkan k0ntolnya ke dalam anusku. meskipun sudah basah oleh cairan memekku, rasa sakit sangat terasa saat anusku dimasuki k0ntol pak jono.


saat kulihat ternyata mbok minah sedang mengocok memekku dengan pare yg dipegan tadi. terjawab sudah kebingunganku tentang reaksi mbok minah yg biasa saja saat melihat suaminya menyetubuhiku, ternyata dia sudah tahu hubunganku dengan suaminya sehingga tdk terkejut saat mendapati kami dalam keadaan seperti itu.



hampir 3 bulan hubungan perselingkuhanku dengan pak Jono berjalan, meskipu sudah berumur lanjut, pak Jono selalu memuntahkan spermanya di dalam rahimku. aku sadar semua itu beresiko kehamilan padaku. tapi karena sudah kepalang tanggung menikmati aku tdk terlalu memikirkan hal itu dan merisaukan hal itu. hingga suatu saat aku tersadar aku sudah telat mens selama 2 bulan. aku takut kekhawtiranku selama ini menjadi kenyataan yaitu aku mengandung anak yg bukan benih suamiku melainkan pak Jono. aku berusaha tenang dan menyembunyikan kabar ini sebelum semuanya menjadi jelas.


setelah sampai dirumah aku mengecek urinku dan hasilnya dua garis, postif. aku melakukan test kembali menggunakan 2 testpack lain yg kubeli tadi dan hasilnya sama, positif. aku berusha tenang dan belum mempercayai hasil testpack itu. 


aku pergi ke dokter kandungan setelah sebelumnya membuat janji terlebih dahulu. aku berharap hasil testpack itu salah dan aku tdk hamil. setelah dilakukan awal dan usg hasilnya aku menunjukkan bahawa aku benar benar hamil. dokter memberiku selamat, aku tdk tahu harus bereaksi bagaiaman apakah gembira atau sedih.


lebih mengejutkan lagi ternyata calon janin berusia 8 minggu yg bersemayam dalam rahimku adalah janin kembar.


sampai di rumah aku bingung apa yg harus ku lakukan dengan janin ini. sampai di rumah suamiku menyambutku dengan menggenggam testpack ku ditangannya. dia tahu aku hamil dia terlihat bahagia mengetahui akan punya anak lagi terlebih bayi kembar. aku berpikir harus menggugurkan kandunganku selain ini adalah anak haram hasil perselingkuhanku dengan pak Jono dan usiaku yg hampir 42 tahun sangat bersiko untuk hamil.


tapi suamiku menolak dia ingin membesarkan bayi itu, aku sedih melihat suamiku yg sngat ingin mempertahankan kehamilanku. seandainya dia tahu anak dalam perutku ini adalah benih pak Jono, tukang kebun di rumahnya pasti reaksinya akan berbeda. keesokan harinya suamiku kembali berangkat keluar kota untuk menghadiri rapat koordinasi kantornya. baru saja suamiku pergi pak Jono memelukku dari belakang. dia lantas mengelus elus perutkku menandakan dia tahu tentang kehamilanku.


sepeti biasa dia langsung menyetubuhiku di atas sofa di ruang tamu. kali pak Jono lebih lembut saat menyetubhiku karen tahu aku sedang mengandung janin calon bayi bayinya. selama menggenjotiku dia terus menerus mengusap dan menciumi perutku dia spertinya senag menjadi bapak anak yg ada dalam perutku ini.


dalam memekku, dia menyirami buah cinta kami dengan lahar putih panasnya.


seiring dengan usia kehamilanku maka bertambah pula nafsu seks ku jika wanita lain ngidam hal aneh aneh aku hanya menginginkan k0ntol yg berhasil menghamiliku itu untuk menyodoki ku. anehnya aku hanya mendapat kepuasan dari k0ntol pak Jono seakan akan anak dalam perutku tahu siapa ayahnya yg sebenarnya.


mbok minah yg juga mengetahui bahwa aku hamil anak suaminya juga berusaha menjaga kandunganku degan baik.


seiring degan kehamilanku ukuran payudaraku ikut bertambah besar. jika sebelumnya payudaraku masih muat di bh ku yg berukuran 36c maka kali ini semua bh ku sudah tdk muat dan sesak jika terpaksa memakai. aku membeli bh baru di toko perlengkapan ibu hamil, ternyata setelah fitting ukuran yg pas ukuran payudara ku naik menjadi 40d.


setiap berhubungan intim aku bisa orgasme hanya dengan dirangsang pada putingku saja. pak Jono juga semakin senang dengan perubahan tubuhku dan semakin liar tiap kali menyetubuhiku. selain ukuran payudara dan perut yg bertambah bokongku juga semakin montok. pakaian muslim dan jilbab lebar yg kupakai sehari hari seakan tdk bisa menyembunyikan kesintalanku.


kalau di rumah tdk ada siapa siap selain aku, mbok minah dan pak Jono maka aku tdk memakai apa apa lagi. selain kurang nyaman karena sesak dan gerah, ini kulakukan agar pak Jono leluasa mengunjungi calon anak anaknya dengan mudah setiap saat. sering aku dientot saat mbok minah di dalam rumah bahkan pernah mbok minah ikut meremas remas susu saat aku digenjot pak Jono dari belakang.


yg agak aneh dari kehamilanku saat ini adalah aku suka minum pejuh pak Jono. jika sebelum tahu aku hamil pejuh pak Jono selalu dia siramkan dalam rahimku, akhir akhir ini aku lebih suka meminum pejuhnya dari pada disirmakan pada memekku. bahkan sku kini mengumpulkan tiap tetes pejuh pak Jono saat kami bercinta dan menyimpannya untuk aku nikmati di lain waktu.


sering aku menggunakan pejuh pak Jono sebagai selai olesan roti, campuran susu kehamilan dan teh, atau sebagai tambahan bumbu penyedap dalam makananku, aku memang sudah kencanduan pejuh pak Jono. yg lebih gila sering aku mengonsumsi pejuh pak Jono di depan suami dan anak anakku, bahkan pernah sayur terong yg sudah dibumbui pejuh pak Jono kami nikamti bersama saat makan keluarga.


memasuki usia kehamilan 6 bulan aku sudah tampak seperti wanita hamil 9 bulan yg siap melahirkan, itu karena anak yg kukandung kembar. sejauh ini kehamilankupun tumbuh sehat dan perkembangannya baik ini semua berkat genjotan dan gizi dari pejuh pak Jono hingga kehamilanku selalu fit. selain itu payudaraku yg dalam ukuran terakhir mencapai 40d kini sudah mulai memproduksi susu.


pak Jono juga semakin senang karena produksi asi ku melimpah selain terjamin kebutuhan asi anak anaknya nanti sebelum lahir dia bisa menikmati susu langsung dari payudaraku setiap saat. dia suka sekali netek padaku. entah itu saat sedang berhubungan intim atau saat sedang santai bersama. dia hampir setiap hari menghabiskan susu langsung dari payudaraku.


nyeri di payaudara ku berkurang karena susunya selalu diminum aku juga mengalami oragasme saat pak Jono netek padaku.


jika ada suami atau anakku di rumah maka kegiatan netek tdk bisa kulakukan. praktis aku hanya bisa memerah susu dan menyimpannya untuk selanjutnya kuberikan pada pak Jono untuk diminum. selain untuk diminum sendiri, pak Jono sering membawanya pulang untuk diberikan pada cucunya yg msih berumur 9 bulan.


bahkan pernah saat anak pak Jono, yg merupakan ibu dari cucunya tadi tdk menghsilkan cukup asi untuk sang bayi, pak Jono dan mbok minah membawaq bayi itu untuk aku susui. aku dengan senang hati melakukannya karena bisa membantu mencukupi gizi cucu mereka. dengan pelan aku menyusui cucu pak Jono yg masih bayi itu di kursi sofa.


jika ada yg melihat persetubuhan kami saat itu pasti akan terangsang berat, bagaimana tdk aku yg sedang hamil besar dan tengah menysui bayi dientot oleh laki laki yg lebih pantas kupanggil sebagai ayah. beberapa bulan kemudian aku melahirkan sepasang anak laki laki yg sehat. aku melakukan persalinan secara caesar karena terlalu beresiko mengingat usia ku yg sudah berumur.


anak itu kuberi nama deni dan dani mengambil dari nama orang tua kandung meraka Jono dan Yani. mereka tumbuh menjadi anak yg sehat dan cerdas. itu semua karena aku selalu memberi mereka asi eksklusif. mereka pun dengan lahap meminum susu mereka baik secara langsung dari tetekku atau dari botol asi yg sudah juperas sebelumnya.


sedangkan hubunganku dan pak Jono berhenti sementara. selain karen orang tua dan mertuakau sering menginap di rumahku untuk membantu merawat bayi bayiku. juga karena aku masih dalam masa nifas setdknya dalam 3


bulan sehingga sama sekali tdk mungkin untuk menyetubuhiku saat itu. aku merasa kasihan dengan pak Jono tdk bisa menimang anakny sendiri karena kami harus menutup rahasia ini rapat rapat, meskipun kadang kadang pak Jono mencuri curi waktu untuk bisa menggendong buah hatinya itu.


lebih kasihan lagi karena tdk bisa menikmati tubuhku untuk sementara waktu. karena aku melakukan caesar maka memek ku masih sempit, ukuran tubuhkupun kembali seperti semula kecuali kedua payudaraku yg sepertinya tdk akan mengecil selama masih memproduksi asi. suamiku adalah orang pertama yg menikamti tubuhku pertama kali sejak aku melahirkan.


dengan sodokan sodokan kasar k0ntol pak Jono yg siap membuahi kembali rahimku ini.


3 tahun kemudian sejak saat kelahiran anak kembarku, aku sudah memiliki 3 anak dari hubunganku degan pak Jono. dani dan deni berusia 3 tahun dan akan masuk play group sedang anakku yg ketiga dengan pak Jono perempuan bernama dina saat ini berusia 1,5 tahun. pak Jono suka sekali melihat aku hamil dari perbuatannya dan membuat suamiku yg membesarkan anak anaknya.


saat aku sedang menulis cerita ini aku sedang hamil 9 bulan dan lagi lagi hasil benih yg ditanam pak Jono, janin dalam perutku juga anak kembar. secara keseluruhan aku sudah melahirkan 5 orang anak ditambah 2 dalam kandunganku saat ini dan aku masih ingin terus hamil lagi oleh pak Jono.


End.