Selasa, 02 Juni 2026

Mbak citra dan kebaya mama

part 1      


Cerita ini merupakan remake dari Mbak Citra dan Kebaya Mama dengan beberapa perubahan.


Perkenalkan namaku Tengku Alvin Sharafudin, berusia 21 tahun dengan tinggi badan 173 cm, berat 66 kg, kulit putih dan hidung mancung. saat ini aku mahasiswa di salah satu universitas negeri ternama di Depok. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Kedua orang tuaku berasal dari Sumatera Utara namun mereka berbeda daerah dan suku.

Papaku bernama Tengku Rizal Sharafudin berusia 50 tahun keturunan Melayu Deli-Arab tinggi badan 168 cm berat 72 kg berprofesi sebagai pengusaha kelapa sawit. Mamaku sendiri bernama Diana Nasution, berusia 45 tahun keturunan Batak Mandailing berwajah cantik dengan kulit putih mulus serta hidung mancung ditunjang dengan tinggi badan 165 cm, berat 67 kg dan ukuran payudara 36C.

Papa dan Mamaku hijrah ke Jakarta tak lama setelah mereka menikah di Medan. Awalnya Mamaku hanyalah seorang Ibu rumah tangga biasa, namun sudah 3 tahun ini Mama membuka butik pakaian wanita dibantu modal dari Papaku. walaupun mempunyai butik, Mama juga menerima pesanan secara online di media sosial.

Diana Nasution

Aku disuruh oleh Mama mengambil jahitan di rumah Tante Nita sahabat Mama. Besok sore mau Mama pakai untuk kondangan ke pesta pernikahan anak Oom Dodi. Mama mengecilkan bagian pinggang baju kebayanya. Sudah beberapa hari yang lalu Mama membawa baju kebayanya itu ke rumah Tante Nita.

Tapi waduhh.. aku malas mau ke rumah Tante Nita. “Mama aja deh yang ke sana..” kataku.

“Mama melahirkan kamu susah-susah sampe berteriak-teriak kesakitan, tapi suruh kamu ngambil baju Mama nggak sampai 15 menit aja, kamu nggak mau!” omel Mama.

Akhir-akhir ini Mama memang suka marah-marah dan lebih cerewet baik kepadaku maupun kedua adikku. Mama tidak pernah berpikir bagaimana 21 tahun yang lalu ia bikin aku dengan Papa. Aku yakin Mama hanya berteriak sakit satu kali, yaitu ketika kontol Papa menerobos memecahkan kegadisannya. Setelah itu, apa Mama masih sakit?

Daripada tambah Mama semakin naik darah, aku berjalan ke rumah Tante Nita. Di depan rumah Tante Nita tergantung beberapa kandang burung milik Oom Kardono, suami Tante Nita. Aku tidak tahu burung apa yang ada di kandang bagus-bagus beraneka warna tersebut. “Burung” sendiri aja jarang aku urus, kenapa pengen tau “burung” orang lain?

Yang membukakan pintu rumah untuk aku ternyata bukan Tante Nita, tapi Citra, putri tunggal Tante Nita yang sudah menikah. Aku kenal baik dengan Citra, tapi siang ini Citra yang sedang hamil itu membuat aku terkaget-kaget.

Pakaiannya kaos bertali kecil di pundak dan celana pendek. Bukan hanya leher, paha dan kakinya yang mulus kuning langsat yang membuat aku terpana, tapi perutnya yang buncit itu meluber keluar dari bagian bawah kaosnya hingga nampak pusernya. Ia tidak nampak canggung dengan aku.

“Lho kok kamu ada di sini, Ra?” tanyaku. Ia kakak kelas aku di SMA. Setelah menikah, ia tinggal di luar daerah ikut suaminya.

“Rencananya mau melahirkan di sini. Mumpung ada Mami yang ngurusin…” jawabnya tersenyum. “Tumben kemari? Ayo masuk…”

“Aku mau ngambil jahitan Mama..” jawabku ikut Citra masuk ke dalam rumah.

“Tuh.. di meja, cari aja sendiri. Aku nggak tau mana baju Mamamu, Mami nggak ada di rumah, ke rumah Oom, istrinya meninggal. Mungkin besok Mami baru pulang…”

“Aku juga nggak tau mana baju Mamaku. Kemarin Mamaku yang bawa kemari sendiri, katanya sih kebaya…”

“Kalo gitu, besok aja baru ngambil. Sekarang, duduk dulu. Mau minum apa kamu?”

“Nggak usah minum apa-apa, terima kasih, Ra. Mamaku mau pakai kebayanya besok.”

“Kamu duduk dulu, aku telepon Mami…” kata Citra masuk ke kamar.

Aku meletakkan pantatku duduk di sofa. Citra menelepon Maminya sementara aku duduk dengan gelisah membayangkan tetek Citra yang tidak pakai bra dan perut buncitnya yang meluber keluar dari kaos tank-topnya yang pendek. Setelah telepon, Citra mengambil sebuah bungkusan di meja. Ternyata baju kebaya Mamaku sudah disiapkan oleh Tante Nita.

“Jabang bayi di dalam perutku ini ingin berkenalan dengan kamu, Vin…” kata Citra memegang perutnya yang telanjang.

“Ah, kamu bisa aja, Ra…” kataku.

“Kalo nggak percaya, coba saja kamu pegang perutku ini..” balas Citra melangkah mendekati aku. Perut Citra yang buncit berhadapan dengan wajahku.

“Besar gitu sudah berapa bulan sih?”

“Mau 7, seksi ya?”

Pertanyaan Citra membuat aku tersentak, tapi aku menjawabnya dengan tenang. “Wahh.. sangat!” ujarku. “Aku nggak hanya mau memegang, tapi akan kucium perutmu ini. Jika anakmu laki-laki, nanti aku punya anak cewek, kita besanan, ya?”

Citra dan aku tertawa berbarengan. Kumajukan wajahku, lalu kucium perut Citra yang membusung di depanku. “Hmm… teruskan cium sampai ke bawah, Harr…” desah Citra, kemudian ia menurunkan celana pendeknya seperti memberiku sinyal supaya aku ‘menggarap’ tubuhnya.

Karena aku juga napsu sama dia, aku turuti permintaan Citra. Hidungku menjalar turun ke bawah. Tampak celana dalam pendek berwarna merah menggelantung di bawah perutnya. Tak segan-segan lagi kutarik turun celana dalam Citra hingga terlihat bulu kemaluan hitam menghiasi segitiga emasnya. Kucium bulu ikal kasar berujung runcing beraroma khas itu.

“Vinn…” desah Citra.

“Libidomu lagi tinggi, ya? Mau kucium semua tubuhmu?” tanyaku.

“Kamu yang memulai, kamu juga yang harus mengakhiri.” jawab Citra.

“Haa… haa…” kutarik Citra duduk di sampingku. “Seandainya aku tidak kemari…?” tanyaku.

“Kamu bukan anak Mama kan, kalau pergi kelamaan suka dicari?”

“Mamaku bukan anak kecil, ngapain kutunguin?” jawabku.

“Haa.. haa.. kita ngobrol dikamarku saja kalau gitu…” ajak Citra tertawa lepas.

Segera Citra bangun dari sofa melangkah ke pintu rumahnya yang terbuka. Kubangkit dari tempat dudukku mengikuti Citra yang sudah mengunci pintu rumah, masuk ke kamarnya. Sesaat kami duduk di tepi tempat tidur, kami langsung berciuman bibir tanpa berbasa-basi lagi.

Nanti kalau aku pulang ke rumah, aku juga akan mencium Mamaku sepuas-puasnya. Rupanya ocehan Mama membawa keberuntungan bagiku. Lumayan lama kami berciuman dengan posisi duduk. Terus tanganku mulai menjelajahi tubuh Citra dari lehernya aku usap terus sampai ke punggung dan pelan-pelan tanganku mulai meremas payudaranya yang masih tertutup kaos.

Uggh, montok banget. Memang wanita kalau lagi hamil, payudaranya padat dan montok sekali, mungkin sudah berisi ASI, tapi belum bisa dikeluarkan. Kemudian ciumanku mengarah ke telinganya. Aku menjilat pelan belakang telinganya.

“Shhhh… ooohh… Vinn… ssshtt…” desis Citra.

Terus kujilat lehernya, Citra tambah mendesis. Jariku ikut mengelus ‘niple’nya. Tubuh Citra melemah, kemudian kurebahkan Citra di tempat tidur. Citra pasrah saja kulepaskan kaos tank-top dan celana pendeknya. Citra yang hanya mengenakan celana dalam itu perutnya seksi sekali. Aku mencium perutnya sambil tanganku meremas payudaranya.

Sensasinya.. bro… waww…

Ketika mulutmu mulai mengulum ‘niple’nya, ‘niple’nya keras sekali, tanda Citra sudah terangsang. Tanganku turun meraba celana dalamnya dan mengusap celana dalam luarnya. Citra terengah-engah. Sambil mulutku masih mengenyot ‘niple’nya, tanganku menyusup masuk ke celana dalamnya, dan mencari klitorisnya.

“Ughh! Shhh.. ooggh! Uggh!” desahan Citra berubah menjadi jeritan kecil sewaktu tanganku aktif bergerak di daerah vaginanya.

Vagina Citra sudah basah sekali. Kemudian aku membuka celana dalamnya. Citra bertelanjang bulat di depan mataku bukan hanya khayalan. Hidungku bisa merasakan aroma vaginanya dan merasakan lendir yang meleleh keluar dari liang vaginanya itu rasanya gurih saat lidahku menjilat sambil tanganku mengelus perutnya yang hamil.

Terus aku memasukkan jari telunjukku ke dalam vaginanya. Jariku tidak berani dalam-dalam masuknya karena takut mengganggu kandungannya. Sembari lidahku menjilat klitorisnya telunjukku keluar-masuk vaginannya, perlahan banget temponya. Citra tambah terangsang. Kepalaku diremas-remas saking nikmatnya jilatanku yang dirasakannya.

“Vinn.. aku mau meledak..” bisiknya.

“Ledakkan aja, aku nggak nahan kok…” jawabku masih bisa mencandai Citra.

Kujilat lagi klitoris Citra yang sudah mekar menjadi keras. Tangan Citra dengan kuat menekan kepalaku. Jilatin terus kulakukan, aku sedot… aku telan semua cairan dari vaginanya saat tubuh Citra mengejang seperti mau menjelang ajal.

Citra orgasme, aku bangun melepaskan semua pakaianku. Kami berpelukan dengan telanjang seperti sepasang suami-istri sambil tanganku mengelus-elus perutnya yang seksi, dan Citra berbisik ke telingaku,: “Boleh nggak kucium ‘adik’mu?”

Ugh, aku langsung menelan ludah. Citra kemudian bangun memegang kontolku, terus lidahnya mulai menari-nari di ujung kontolku sembari tangannya mengocok-ngocok serta berputar-putar dari pangkal sampai leher kontolku, gila… enak abis, aku sampai mengerang kenikmatan.

Aku memegang kepala Citra dan bilang padanya jangan mainin adikku kelamaan,: “Aku tidak mau meledak di mulut kamu!” kataku.

Aku mengangkat kepalanya dan aku bikin tubuhnya terlentang. Terus kuposisikan badanku di antara kedua pahanya yang terbuka lalu mulai mengarahkan kontolku ke liang vaginanya. Seksi sekali badan Citra dilihat dari atas dengan perutnya yang membusung seksi. Aku pelan-pelan menusukkan kontolku. Rupanya liang vagina Citra masih padat.

Dengan sedikit usaha akhirnya kontolku berhasil memasuki vagina Citra. Kontolku masuk semuanya. Nikmat banget seperti ada yang gigit, mencengkram erat kontolku, sampai aku meringis saking nikmatnya.

“Jalannya masih sempit gini, suamimu jarang tengok calon anaknya ya, Ra?” tanyaku.

“Kamu tanyakan dia aja. Dia ngurus pekerjaannya saja dari pagi hingga tengah malam, makanya aku pulang ke sini…” jawab Citra dengan suara sewot.

Aku tidak mau banyak tanya soal rumah tangga Citra. Biarkan saja mereka berantem, aku nggak punya urusan. Pelan-pelan aku menggerakkan k nt lku yang keras itu keluar-masuk dengan tempo yang aku atur.

Vagina Citra terasa menjepit erat kontolku. Aku harus atur napas untuk menjaga supaya aku tidak buru-buru meledak. Disertai elusan, rabaan, dan ciuman dariku badan Citra mulai menegang dan tangannya tambah erat mencengkram lenganku tanda ia mau orgasme kembali.

Gerakanku percepat, tambah cepat! Dan aku juga mulai merasa sudah mau dekat ke ujung. Waktu merasa aku mau keluar, Citra tambah keras mencengkram aku. “Aahhhhhhh.. aku mau meledakk…!” erangku.

Lahar panas aku menyembur kencang di dalam vagina Citra. Rasanya aku melayang-layang. Tidak tahu lagi apa yang terjadi pada Citra, apakah ia ikut orgasme atau tidak. Setelah itu, aku tidak buru-buru mencabut kontolku. Kubiarkan kontolku melemas sendiri di dalam vagina Citra. Lalu kucium perutnya, kucium bibirnya dan kucium ketiaknya.

Oohh… kamu bikin aku gila sama kamu, Ra…” kataku terengah-engah.

Citra mengajak aku mandi bareng. Aku menyabun badannya dengan lembut, dan daerah yang paling lama aku sabuni adalah daerah perutnya. Aku usap lembut dengan gerakan memutar, turun-naik, Aku menikmati sensasinya.

Citra bertanya padaku,: “Kamu suka perut aku ya?”

“Iya, aku suka sama wanita hamil,” jawabku.

“Terus.. kalo aku sudah melahirkan, kamu sudah nggak suka sama aku, dong?”

Aku hanya senyum tak menjawab, lalu kucium bibirnya. Sekali lagi kami mengulangi cumbuan terlarang itu di kamar mandi.

Sesampai di rumah, aku sungguh beruntung Mama tidak bertanya padaku. Yang penting baju kebayanya yang akan dipergunakannya besok sore sudah berada di tangannya. Malamnya aku hanya setengah tidur, setengahnya aku pakai untuk membayangkan Citra. Kalau ia pengen jadi istriku, aku mau deh. Gila… nikmat banget vaginanya…

Keesokan siangnya, Mama menyuruh aku jangan kemana-mana. Mama mau meminta aku menemaninya kondangan, karena Papa sedang berada di Medan mengurus usaha sawitnya. Aku tidak bisa menghindar, kuturuti saja ajakan Mama.

Sorenya, selesai aku rapi-rapi, memakai kemeja batik lengan panjang dan celana panjang formal, bukan jins, aku menunggu Mama keluar dari kamar sambil duduk melihat adikku Zafran dengan seorang temannya main PS di depan televisi. Begitu Mama keluar dari kamar, sepasang mataku seolah-olah dibuatnya jadi kaku, tak bisa dikedipkan.

Luar biasa!

Citra lewat!

Mama yang memakai kebaya dari bahan brokat berwarna merah marun itu, payudaranya yang putih mulus hampir separuh terburai keluar dari bagian atas baju kebayanya. Pantatnya yang terbungkus kain ketat nampak nonggeng, sangat semok dan bergoyang ke kian kemari saat Mama berjalan memakai sandal hak tinggi.

Ufff… rasanya aku sampai susah mengatur napasku. Citra yang masih bertubuh segar saja tidak membuat aku sampai begitu, tetapi wanita berusia pertengahan 40 tahunan ini sungguh menggairahkan darah mudaku. Rasanya aku ingin memeluknya dan membuat cupang di payudaranya yang keluar dari bagian atas baju kebayanya itu.

“Bengong aja…” kata Mama.

“Mama seksi, sih… uff…”

“Nanti Mama tutup dengan selendang…” ujar Mama tersenyum dengan bibirnya yang tipis dipoles lipstik berwarna merah.

Rambutnya disasak tinggi. Entah berapa botol hairspray telah dihabiskannya. Tak lupa aksesoris sepasang anting-anting hoop bulat berwarna kuning emas menghiasi telinga Mama. Aku merasa tidak rugi menemaninya, karena Mama begitu cantiknya sore ini. Mama menjelma seperti seorang wanita berusia 30 tahunan, bukan lagi seorang wanita yang mau menopause dengan payudara yang sudah layu dan kendor.

Kami sampai dI tempat parkir mobil hampir jam 7 malam. Turun dari mobil, Mama mau menyelempangkan selendang ke bahunya, aku melarang Mama. “Nanti kamu malu,” kata Mama.

“Kenapa aku malu punya seorang Mama yang cantik dan seksi?” jawabku.

Mama menggandeng tangan kananku berjalan ke lobby. Di lobby, kami di sambut oleh 3 pasang suami-istri. Si suami memakai jas lengkap, sedangkan istri mereka memakai gaun pesta panjan dengan warna dan model yang seragam.

Mama menyuruh aku menyerahkan amplop merah dan menulis buku tamu, lalu kami diberi sovenir sebuah kipas. Setelah itu kami di arahkan ke sebuah lapangan terbuka. Luasnya mungkin ¾ lapangan sepak bola dan tamu undangan sudah banyak.

Aku melihat meja makanan bertebaran di setiap sudut lapangan. Tapi kami tidak boleh langsung mengambil makanan, karena acara belum dimulai. Mama bersalaman dengan orang-orang yang dikenalnya, aku ikut bersalaman, dan sampai-sampai ada yang bertanya pada Mama. “Ini suami?” Mungkin orang itu belum kenal dengan Papa.

Tapi aku bangga juga dibilang suami Mama. Mama mengajak aku berdiri di bawah sebatang pohon yang rindang. Disitu agak gelap, tapi bukan hanya di tempat kami berdiri saja, melainkan hampir seluruh lapangan gelap, kecuali pelaminan untuk kedua mempelai dan kedua orang tua mereka. Di situ terang benderang.

Mama tidak berdiri sendirian, tapi Mama menggandeng terus tanganku. Rasanya semakin rapat saja, lenganku bisa merasakan tonjolan payudaranya. Tapi kemudian aku dikejutkan oleh sepasang tamu yang usia mereka kira-kira seperti Mama dan berdiri pas di depan aku dan Mama.

Mereka berciuman bibir, saling melumat dan aku melihat tangan si pria sampai meremas payudara si wanita. Aku buru-buru menarik Mama menjauh dari kedua orang itu. “Tadi Mama liat gak?” tanyaku.

“Iya, kamu mau begitu juga?” tanya Mama. “Kasihan anak Mama. Cium nih bibir Mama.” kata Mama. Entah Mama bercanda atau beneran.

Meskipun Mama hanya bercanda, aku semakin bergairah dengan Mama. Aku tidak pernah ingat lagi permainan seks aku dengan Citra kemarin siang.

Kami sekitar 1 jam di tempat pesta. Di dalam mobil, setelah kuhidupkan mesin, aku memeluk pundak Mama. Mama dengan manjanya bersandar di bahuku. Aku mencium pipinya, lalu dengan berani aku berbisik ke telinganya. “Ma, anak Mama terangsang sama Mama!”

Mama tersenyum, lalu tangannya mengelus selangkanganku. “Hmm…” desahnya.

Aku kaget juga, tapi melihat sekeliling mobil kami sepi, tanpa banyak mikir lagi, langsung aku menunduk mengisap payudara yang keluar dari bagian atas baju kebaya Mama.

“Oohh… sayang, di sini nanti kelihatan orang, nanti di rumah saja!” bisik Mama dengan suara parau.

Aku membisu dengan Mama sepanjang perjalanan pulang. Sungguh aku nggak nyangka, Mama mau meladeni aku.

Kami sampai di rumah hampir jam setengah 10 malam. Mama menemani aku memasukkan mobil ke garasi, disamping mobil Papa tengah menganggur karena ditinggal ke Medan. Mama lalu membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya. Lampu ruangan sudah digelapkan oleh adikku yang sudah tidur di kamarnya masing-masing.

Mama mengunci kembali pintu rumah. Aku melepaskan kemeja batikku. Hanya mengenakan singlet dan masih memakai celana panjang, aku masuk ke kamar Mama lalu menyalakan lampu menghempaskan tubuhku di ranjang. Setelah Mama menyimpan sandalnya di rak, Mama yang belum berganti pakaian langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu lalu tiduran di sampingku.

“Lumayan sih Ma” Jawabku pada Mama

“Mama makannya banyak banget, makanannya enak-enak. Gagal deh diet Mama. Hmm… sayangg…” Mama menyandarkan kepalanya di bahuku.

Mendengar ia mendesah hmmm… sayang, aku tidak mampu mengontrol diriku lagi. Aku segera menjulurkan tangan kiriku memeluk pundaknya, lalu menunduk mencium bibirnya yang sudah kehilangan lipstik. Mama sama sekali tidak menolak. Mama memejamkan matanya dan ia membuka mulutnya menjulurkan sedikit lidahnya, sementara tangannya mencoba menarik turun ritsleting celana panjangku.

Aku mengisap lidahnya, sementara tangan kananku membuka kancing baju kebayanya. Mama berhasil mengeluarkan kontolku yang tegang dari balik celana dalamku. Ia meremas dan mengocok kontolku pelan sambil bibirnya saling melumat dengan bibirku.

Kancing baju kebayanya aku lepaskan semua, lalu kunaikkan BH-nya. Tanganku lalu meremas payudara Mama yang menggelantung kendor itu. ‘Niple’nya yang kecil kupelintir pelan. Mulut Mama mengisap kuat lidahku sambil hidungnya mengeluarkan udara mendengus-dengus. Aku terus saja memelintir ‘niple’nya. Mama lalu menarik lepas bibirnya dari bibirku.

Napas Mama terengah-engah seperti ia barusan berlari ratusan kilometer. “Ooo… oooo… lepasin Vinn.. jangan diterusin… Mama nggak tahannn… Mama nggak tahan, Vinn… Mama nggak tahann…” desahnya.

Aku memeluk Mama erat-erat membiarkan ia orgasme. Aku malu juga telah membuat Mama orgasme. “Maaf ya, Ma.” bisikku.

Mama melepaskan dirinya dari pelukanku. Ia berdiri dan dengan kedua tangan menaikkan kainnya. Mama bukan memakai celana dalam, tapi memakai korset. Ia melepaskan korsetnya. Mama melipat korsetnya lalu ditaruh di sofa. Mama kemudian berkata padaku,: “Nggak usah dibuka semua…” lalu Mama melangkahkan kakinya naik ke pahaku.

Kontolku yang tegang dipegangnya, kemudian ia tekan ke lubang vaginanya. Setelah itu, pelan-pelan Mama menurunkan tubuhnya. Kontolku ikut pelan-pelan tenggelam ke dalam vagina Mama yang kering dan menjepit kontolku itu. Nikmat banget. Mama lalu menyodorkan ‘niple’nya ke bibirku.

Saat aku mengisap ‘niple’nya, Mama mengayunkan pantatnya maju-mundur memeras air maniku sambil kedua tangannya melingkar di leherku. “Ooo… sshhss… ooogghh…” desahnya pelan.

Terus terang, aku tidak bisa mengatur tempo permainan itu. Mama yang memegang kendali di atas. Ketika aku sudah merasa mau klimaks, pantat Mama semakin mengayun cepat dan semakin cepat.

“Oooohhh…” erangku menyemburkan spermaku sebanyak 10 kali ke dalam rahim Mama.

Mama juga merintih,: “Oooogghh…” dan pantatnya terus bergoyang maju-mundur sampai tubuhku lemas, kemudian Mama memeluk aku erat-erat.

Mama mendiamkan tubuhnya di atas pangkal pahaku beberapa saat, lalu ia bertanya padaku,:

“Sudah?”

“Ya Ma, thank you…” ucapku malu-malu.

Selesai bercinta, Mama pun melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat begitu juga denganku. Setelah sama-sama telanjang bulat, aku dan Mama pun tidur sambil berpelukan dalam posisi menyamping. saat sedang berpelukan mesra dengannya, aku pun mencoba membuka percakapan dengan Mama.

“Makasih ya Ma, udah mau ngelayanin aku malem ini. Aku puas banget sama Mama”. Pujik padanya.

“Sama-sama sayang, Mama juga puas sama kamu malem ini”. Balas Mamaku sambil mengelus-elus rambutku.

“Belakangan ini kok Mama suka marah-marah mulu, emangnya kenapa Ma?” Tanyaku pada Mama.

“Abisnya kamu sih pemales banget jadi cowok, kerjaannya kalo dirumah cuma makan, tidur, sama main PS”. Jawab Mama dengan nada marah yang dibuat-buat

“Perasaan dari dulu aku juga kayak gitu tapi kok Mama gak terlalu sering marah. Kalo emang ada masalah cerita aja Ma?” Tanyaku sambil membelai rambutnya.

Mendengar permintaanku, Mama pun terdiam sejenak. Ya sepertinya Mama memang ada masalah yang disembunyikan, entah dengan Papa atau orang lain. setelah agak lama terdiam, akhirnya Mama pun buka suara.

“Kamu tahu kan udah 3 tahun ini Mama buka butik buat usaha jualan baju perempuan”

“Iya aku tahu kok, emangnya ada apa sama butik Mama?” Tanyaku padanya.

“Butik Mama sih gak ada apa-apa, cuma kamu harus tahu, sebenarnya waktu Mama mulai usaha jualan baju 3 tahun lalu, Papa kamu itu udah hampir bangkrut gara-gara harga sawit turun”. Terang Mamaku.

“Terus Mama buka usaha butik itu buat ngeringanin Papa demi menuhin kebutuhan hidup kita?” Tanyaku pada Mama.

“Iya memang begitu sih sayang, tapi masalahnya tahun ini usaha Papa kayaknya makin parah deh, lebih parah dari tiga tahun lalu, makanya dia sering bolak-balik Medan-Jakarta buat ngurusin kebun sawitnya”. Terang Mamaku sedih.

“Terus kenapa gak dijual aja ma kebun sawitnya abis itu bikin usaha baru?” Tanyaku pada Mama.

“Masalahnya kebun sawit itu warisan dari almarhum Datuk (kakek) kamu, Papa diamanahin buat ngurusin kebun sawit itu pas Datuk udah mau meninggal, nah Datuk ngomong bahwa kebun sawit itu jangan dijual karena itu warisan keluarga”. Kata Mamaku. sambil berkaca-kaca.

“Berarti hampir tiga tahun ini, aku, Zafran, sama Arkan itu hidup dari hasil butik Mama karena usaha Papa lagi lesu?” Tanyaku pada Mama.

“Iya sayang, hampir tiga tahun ini uang Papa kamu lebih banyak abis buat bayar utang bank dan lain-lain makanya hasil yang dibawa ke rumah kurang. Untunglah usaha Mama lumayan laris, jadi kita gak perlu sampe jual rumah sama mobil segala”. terang Mamaku.

Mendengar itu aku jadi terharu dengan pengorbanan Mamaku. Kukira Mama selama ini buka usaha butik hanya sekedar untuk mengusir rasa bosannya selama dirumah. Tak disangka bahwa hampir tiga tahun ini sebenarnya Mama membantu Papa dengan sangat keras agar kami tidak sampai hidup sengasara. Aku pun memeluk Mama dengan erat dan mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya.

“Ma. maaf kalo aku boleh nanya, Mama sama Papa masih rutin “gituan” gak sih?” Tanyaku pada Mama.

“Kalo rutin sih masih Vin, cuma ya belakangan ini agak jarang soalnya Mama sama Papa sibuk urusin usaha masing-masing, apalagi Papa suka keluar kota jadi makin jarang deh ketemuannya”. Jawab Mamaku sambil membalas pelukanku.

“Pantesan tadi Mama nafsu banget, rupanya karena udah lama ya gak dapet jatah Papa?” Tanyaku padanya.

Mama pun hanya menjawabnya dengan senyuman.

Berpelukan erat dengan wanita secantik Mama, rupanya membuat nafsuku bangkit kembali. Melihat sepasang anting-anting hoop bulat emas masih tergantung indah di kedua telinga Mama entah kenapa membuat kontolku makin mengeras seperti batu. Aku pun mulai menciumi dan memainkan anting-anting yang dipakai Mamaku.

Karena sudah tidak tahan lagi aku pun segera membalikan tubuh Mamaku hingga sekarang aku berada diatas menindih tubuhnya. Kuciumi seluruh tubuhnya terutama payudaranya yang besar dan montok dan anting-anting cantiknya. Melihat tingkahku tersebut membuat Mama pun buka suara.

“Kamu kepengen lagi ya sayang?. Tanyanya padaku.

“Iya Ma, OHH OHH OHH”. Kataku sambil menggesek-gesekkan kontolku ke pahanya.

“Yaudah, cepetan gih, Mama juga udah siap”. Kata Mamaku sambil memejamkan matanya.

Aku pun memasukkan kontolku ke dalam memek Mama yang cukup sempit itu.

“BLESS SREETT BLESS SREETT BLESS”

“OHH Pelan-pelan sayang, punya kamu gede banget”. Rintih Mamaku.

“OHH OHH OHH OHH MAMA!!!!!!” Teriakku menahan nikmat darinya.

Kami pun kembali bercinta pada malam itu. Kusodok memek Mamaku dengan sangat kuat. Wajahnya sungguh cantik mempesona jika dilihat dari dekat.

“PLAK PLOK PLAK PLOK PLAK PLOK OHH OHH OHH Mama OHH OHH!”

“OHH Alvin pelan sayang OHH OHH OHH OHH!”

Setelah 15 menit dalam posisi misionaris, aku pun meminta Mama berganti dengan posisi doggie style.

“Ma, ganti posisi dong, sekarang Mama nungging ya”. Pintaku pada Mama.

“Iya sayang”. Kata Mamaku

Dalam posisi ini aku bisa melihat punggung Mama yang mulus dan pantatnya yang montok. Sambil menyodoknya dari belakang aku juga menjilati punggung dan meremas-remas pantatnya yang montok. Sekitar 10 menit kami bertahan dalam posisi itu.

Ketika merasa akan keluar. aku pun meminta Mama kembali ke posisi awal yaitu misionaris. Dalam posisi ini aku kembali bisa menghisap payudaranya dan menciumi anting-antingnya. Karena sudah akan mencapai klimaks aku pun menyodok Mamam dengan sangat kencang hingga membuat dia merintih-rintih keenakan.

“Mama, aku mau keluar OHH OHH OHH CROOTT CROOTT CROOTT CROOTT CROOTT CROOTT CROOTT!” Kusemprotkan spermaku sebanyak 7 kali ke dalam rahimnya tempat aku dikandung dulu.

“AHH AHH Kamu banyak banget keluarnya sayang OHH OHH OHH CREETT CREETT CREETT CREETT!” Teriak Mamaku yang juga telah mencapai orgasmenya.

Setelah mencapai klimaks, akhirnya tubuhku pun ambruk menimpa tubuh Mamaku. “Oh aku baru saja 2 kali bercinta menyemprotkan spermaku berkali-kali ke dalam rahim wanita cantik keturunan Batak ini” kataku dalam hati. Aku berusaha mengatur nafasku sambil menciumi leher dan anting-antingnya. Mama pun membalasnya dengan mengecup kening, pipi, dan bibirku.

“Gimana udah puas belum sayang”. Tanya Mamaku dengan senyum.

“Puas Ma, aku puas banget”. Kataku sambil menciumi lehernya yang putih mulus dan anting-antingnya.

“Kamu kok dari tadi pegang-pegang sama ciumin anting-anting Mama terus, kamu suka ya ngeliat Mama pake anting-anting?” Tanya Mamaku sambil tersenyum.

“Iya, Mama keliatan lebih cantik kalo pake anting-anting kayak gini OHH CUPP CUPP”. Kataku sambil mendesah dan menciumi anting-antingnya.

“Ihh, kamu kok ngomongnya sambil nafsu gitu,ngeres ya burungmu liat Mama pake anting-anting emas kayak gini”. Katanya sambil menjambak rambutku.

“Gak kok Ma, aku sama sekali gak ngeres ngeliat Mama pake anting-anting. Aku cuma suka aja”. Kataku sambil menciumi lehernya

“Bohong ah, nih buktinya titit kamu sampe denyut-denyut gini di lobang Mama”. Tegas Mamaku. Karena malu aku pun hanya bisa terdiam dan menunduk.

“Tuh bener kan dugaan Mama, udah kamu ngaku aja kalo emang titit kamu ngeres ngeliat Mama pake anting-anting kayak gini”.

“Ma… ma… maaf Ma”. Jawabku malu.

“Udah gak usah minta maaf sayang, Mama ngerti kok cowok seumuran kamu emang lagi “panas-panasnya” kalo ngeliat cewek cantik”. Kata Mamaku lembut sambil mengusap-usap rambutku. Aku pun menaruh kepalaku sambil tiduran diatas payudaranya yang montok.

Setelah menindih tubuhnya, rupanya nafsuku kembali bangkit lagi. Oh wanita berdarah Batak ini sungguh cantik dan menggairahkan. Aku meminta pada Mama untuk lanjut ronde ketiga.

“Ma, aku mau lagi nih. Mama masih kuat kan?” Tanyaku pada Mama.

“Ya Allah sayang, kamu masih mau nambah lagi? Mama udah ngantuk sayang”.

“Tapi kan tadi Mama makannya banyak banget, Mama pasti masih punya tenaga buat lanjut”

“Ya tapi tenaga Mama pasti kalah sama kamu yang masih muda”.

“Udahlah Ma, itung-itung buat bakar kalori malem hari supaya Mama tambah langsing hehehehe”

“Jadi maksud kamu Mama gendut gitu? Ih jahat ya kamu, udah dikasih “jatah malem” tapi masih aja bilang Mama gendut”. Ngambek Mamaku.

“Mama gak gendut kok, cuma Mama itu montok CUPP CUPP”. Kataku sambil mencium kening dan pipinya.

“Sama aja tahu”. Kata Mamaku ngambek.

Karena tidak tahan lagi, aku pun kembali memasukkan kontolku ke dalam memeknya. Ketika aku mulai menyodoknya reaksi wajah Mama datar karena efek ngambek tadi. tapi lama kelamaan karena sodokanku makin kuat, mata Mama pun jadi ikut merem melek dan mulai mengimbangi goyanganku. kami pun menikmati permainan panas ronde ketiga ini dengan mesra.

15 menit kemudian, aku merasa spermaku akan keluar lagi. kupercepat sodokanku pada memek Mama. ketika sudah diujung tanduk. kumasukkan dalam-dalam kontolku sampai menyentuh mulut rahimnya dan:

“Ma, aku keluar lagi OHH OHH OHH OHH CROOTT CROOTT CROOTT CROOTT!” Keluarlah sisa-sisa sperma sebanyak 4 kali semprotan ke dalam rahimnya.

“AHH Mama juga sayang CREETT CREETT CREETT CREETT!” Erang Mamaku yang juga telah mencapai orgasmenya.

Selesai ronde ketiga ini, tubuhku langsung lemas dan ambruk menindih tubuh Mamaku. Rasanya spermaku benar-benar kukosongkan semua ke dalam rahim Mama malam ini. Walaupun lemas, aku merasakan kepuasan yang luar biasa malam ini

“Aduh, lemes banget Mama ngeyalanin kamu malem ini”. Kata Mamaku dengan wajah sayu.

“Tapi Mama puas kan?” Tanyaku padanya.

“Kalo itu sih jangan ditanya, Mama puuuaaassss banget malem ini”. Jawabnya lagi dengan wajah yang berubah jadi lebih ceria

“Ma, mulai sekarang Mama kalo lagi ada masalah ngomong aja sama aku, jangan malah dipendem sendiri terus jadi marah-marah gak karuan”. Pintaku padanya. Mendengar hal itu, mata Mamaku mulai berkaca-kaca.

“Iya sayang makasih ya udah ngertiin Mama. Kata Mamaku sambil meneteskan air mata. Melihat itu aku pun dengan sigap menghapus air matanya dan mencium pipinya dengan lembut.

“Ma, aku boleh minta satu hal gak?” Tanyaku pada Mama.

“Kamu emangnya mau minta apa sayang?” Tanya Mamaku kembali.

“Mulai sekarang Mama pake anting-anting ya setiap hari mau dirumah ataupun kalo lagi pergi biar keliatan tambah cantik kayak gini”. Pintaku sambil memegang sepasang anting-antingnya.

“Tapi kamu kalo Mama minta bantuin di butik harus mau ya, gak boleh males-malesan kayak dulu”. Kata Mamaku tegas.

“Iya Ma aku janji”

“Anting-anting Mama cuma ada 2 pasang Vin, yang Mama pake sekarang sama yang ada di laci. Besok kamu temenin Mama beli anting-anting baru ya”. Pintaku Mama dengan mata berbinar-binar.

“Sip Ma, besok aku juga lagi libur kuliah jadi bisa temenin Mama ke Mall buat beli anting-anting baru.

“Yaudah, kalo gitu kamu turun gih dari badan Mama soalnya badan kamu berat nih, Mama jadi gak bisa tidur”.

“Iya Ma”. Kataku mulai turun dari tubuhnya lalu tidur terlentang di sampingnya.

Ketika aku tiduran di sampingnya, kulihat cairan spermaku keluar berhamburan dari Memek Mama. Melihat spermaku yang keluar tanpa henti dari memeknya Mamaku pun mengambil tissue yang ada di samping ranjang lalu mengelap memeknya dari luapan spermaku. Setelah tidak ada lagi spermaku yang keluar. Mama pun menarik selimut menutupi kedua tubuh kami lalu tidur sambil memelukku dari samping.

Pagi harinya aku pun terbangun dan kudapati Mama sedang memakai handuk dengan rambutnya yang basah. Dia pun tersenyum melihat aku terbangun.

“Udah bangun kamu sayang”

“Hoam, Iya Ma”. Kataku sambil menguap dan mengulet-ulet wajahku.

“Udah jam berapa sekarang Ma?” Tanyaku pada Mama.

“Jam 8 sayang”.

“Terus Zafran sama Arkan mana? Mereka gak curiga kan aku tidur disini.

“Zafran sama Arkan udah berangkat sekolah tadi pagi. Oh ya tadi Mbok Nur pembantu kita hampir masuk ke kamar lho. Cuma tadi Mama bilang sama dia kalo kamu tadi malem gak enak badan makanya tidur sama Mama. Untung aja dia gak curiga.

“Hah syukurlah”.

“Kamu mandi gih sekarang, katanya mau temenin Mama jalan-jalan ke Mall sekalian beli anting-anting baru”.

“Iya ma, tapi aku lagi telanjang kayak gini malu kalo keliatan sama Mbok Nur”.

“Udah gak usah takut, nih handuk kamu udah Mama ambilin tadi. Kamu mandinya di kamar mandi disini aja biar cepet. Nanti baju sama celana kamu Mama yang ambilin di kamar kamu”. Kata Mamaku sambil memberikan handuk padaku. Memang kamar Mama dan Papa ini dilengkapi dengan kamar mandi dalam jadi aku bisa langsung mandi dengan cepat.

Setelah selesai mandi kulihat Mama sedang berdandan memakai make up di depan meja riasnya. Kulihat baju T-SHIRTS warna putih, celana jeans warna biru, serta celana dalam warna hitam. Aku pun langsung mengeringkan badanku dengan handuk lalu memakai semua pakaianku. Setelah selesai berpakaian, kulihat Mamaku sudah selesai Make Up dengan memakai baju warna coklat dan celana jeans putih dipadu dengan anting-anting yang Mama kenakan semalam waktu pesta.

“Mama cantik banget”. Pujiku pada Mama.

“Yuk berangkat nanti keburu siang”. Ajak Mamaku lembut.

Pagi itu di hari Senin, setelah sarapan pagi aku dan Mama pun pergi menggunakan mobil menuju Mall yang diinginkan. Sampai disana sekitar jam 10 terlihat sudah banyak toko dan kios yang mulai buka. Mama dan aku pun langsung keliling mencari baju dan aksesoris yang diincar. Setelah berkeliling kesana kemari tepat jam 1 siang kami pun menyelesaikan acara belanja ini.

Contoh anting-anting yang dibeli Mama

Setelah menyelesaikan acara belanja, kami pun makan di salah satu restoran fast food yang ada di Mall tersebut. Saat makan aku pun bertanya pada Mamaku.

“Mama belanjanya banyak amat hari ini”

“Ya kan sekalian soalnya baju Mama juga udah banyak yang gak muat udah gitu kamu minta Mama pake anting-anting setiap hari ya mending sekalian dibeli semua”. Kata Mamaku.

“Oh gitu”.

“Eh tapi kamu suka kan baju yang Mama beliin tadi?”

“Suka kok Ma”.

“Yaudah kalo gitu cepet abisin makannya abis itu kita pulang ke rumah”.

“Gak ke butik Ma hari ini?”

“Gak usah, kan udah ada yang jagain. Mama ke butiknya besok aja”.

Setelah menyelesaikan makan siang tepat jam 2 siang akhirnya kami meninggalkan Mall menuju rumah. Sepanjang perjalanan kulihat Mama terlihat ceria sekali hari ini ditemani belanja anak lelakinya yang paling tua yaitu aku. Tidak terlihat raut wajah penuh emosi seperti beberapa hari lalu. Sepanjang jalan kami asyik bercanda dan bercengkrama satu sama lain.

Tak lama kemudian tepat jam 3 sore akhirnya kami sampai juga dirumah. Saat tiba di rumah kulihat kedua adikku sedang tidak ada entah belum pulang sekolah atau sedang bermain keluar. Aku dan Mama pun langsung masuk ke kamar dan kami langsung mencoba pakaian yang kami beli tadi. Sore itu Mama mencoba semua pakaian dan anting-anting yang dia beli tadi.

“Ma, aku kepengen”.

“Aduh kamu ini sore-sore gini malah nafsu sama Mama”.

“Abisnya ngeliat Mama pake baju seksi sama anting-anting cantik kayak gini bikin aku jadi gak tahan”. Rengekku pada Mama.

“Nanti ketahuan sama adik-adikmu”.

“Mereka lagi pergi Ma, udah sekarang aja keburu Papa, Zafran, sama Arkan pulang”.

“Yaudah deh, tapi cepetan ya mainnya”.

Tak lama aku dan Mama pun melepaskan pakaian kami hingga telanjang bulat. Aku pun langsung menelentangkan Mamaku lalu mulai mencumbunya. Kuciumi seluruh tubuhnya termasuk memeknya yang juga kujilati agar Mama terangsang.

Setelah beberapa menit mencumbu karena tidak tahan akhirnya kumasukkan kontolku ke dalam memeknya “BLESS SREET BLESS SREET BLESS SREET!”

“Alvin, jangan berisik sama terlalu kenceng ya nyodoknya, takutnya nanti ketahuan sama Papa dan adik kamu”.

“Iya Ma, aku ngerti”.

Sepanjang persetubuhan kami melakukannya dengan hati-hati dan tidak seheboh semalam. Namun walaupun begitu, ada sensasi tersendiri kalau melakukannya dengan kondisi takut ketahuan seperti ini membuatku tambah semangat untuk menggarap tubuh Mamaku.

20 menit kemudian, karena sudah tidak tahan, aku pun mulai mempercepat sodokanku pada memek Mama. aku pun mulai menyemprotkan spermaku.

“Ohh Mama aku keluar CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT”. Kusemprotkan spermaku sebanyak 6 kali ke dalam memeknya

“Ahh Mama juga keluar sayang CREETT CREETT CREETT CREETT CREETT!” Mama pun juga telah menjemput orgasmenya. Karena kelelahan aku pun ambruk menindih tubuh Mamaku.

“Ma, aku puas banget”.

“Huh, kamu nih nafsu gak kenal waktu sama tempat”.

“Abisnya aku gak tahan liat Mama kayak gini”. Kataku sambil memeluk tubuhnya erat-erat.

“Yaudah kalo gitu sekarang kamu beres-beres gih, Mama juga mau mandi sekarang”. Perintah Mama padaku.

Setelah berpakaian lengkap aku pun keluar dari kamar Mama. Kulihat kedua adikku dan Papa masih belum pulang. Aku bersyukur bahwa mereka tidak mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Mama. Aku pun lalu mengambil handuk dan mandi di kamar mandi luar.

Setelah selesai mandi, kulihat Papa dan kedua adikku sudah ada dirumah. Aku pun menyapa Papa menanyakan kapan berangkat dari Medan.

“Papa, tadi pesawatnya berangkat jam berapa dari Medan?”

“Tadi jam 12 berangkat dari Kualanamu terus nyampe Cengkareng jam setengah 3 sore”.

“Dari Bandara ke rumah macet gak Pa?”

“Wah lumayan macetnya untung aja bisa cepet nyampe rumah, yaudah Papa mandi dulu ya, keringetan banget badan Papa baru nyampe tadi”

“Iya”. Jawabku pendek.

Malam harinya kami sekeluarga makan bersama seperti biasa. Tidak ada yang berubah hanya saja memang segi penampilan Mama keliatan lebih cantik dari sebelumnya. Ya malam ini Mama memakai riasan tipis di wajahnya dan mengenakan anting-anting yang baru saja dibeli tadi di Mall.

Setelah selesai makan malam aku menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas kuliah sedangkan adik-adikku menonton TV di ruang keluarga. Tepat jam 10 malam aku pun tertidur karena kelelahan.

Sekitar jam 2 malam, aku pun terbangun. Karena kebelet pipis dan juga haus aku turun ke lantai bawah untuk kencing dan mengambil minuman. Setelah kencing dan minum dan minum aku pun berinisiatif untuk kembali ke kamar. Namun saat melewati kamar Mama dan Papa aku mendengar suara desahan dan rintihan.

Ya kulihat Papa dan Mama sedang menjalani “ritual” suami-istri yaitu bersetubuh. Terlihat Papa sedang menindih tubuh Mama sambil menyodoknya dengan cukup kuat. Terlihat Mama memejamkan mata menikmati sodokan kontol Papa. Melihat mereka sedang bercinta otomatis membuat kontolku mengeras. 10 menit kemudian terlihat Papa memasukkan dalam-dalam kontolnya ke dalam memek Mama dan menyemprotkan spermanya ke dalam rahim Mama.

Entah kenapa nafsuku bangkit melihat Mama yang tidak puas dengan permainan seks Papa. Tak lama kemudian, mungkin karena haus dan ingin mengambil minum, Mama pun bangkit dari ranjangnya sambil merapikan kimono tidurnya lalu membuka pintu kamarnya. Saat membuka pintu kamar dia seketika kaget melihatku ada di depan pintu kamarnya.

“Alvin, ngapain kamu disini? Tadi ngintip Papa sama Mama gituan ya?” Tanya Mamaku dengan tatapan tajam.

“Maaf Ma, soalnya tadi aku kebelet pipis sama haus makanya aku turun ke bawah. Pas udah selesai pipis sama minum aku denger suara Papa sama Mama desah-desah dari dalam kamar. Karena penasaran aku ngintip eh tau Mama sama Papa lagi “ritual” malem hehehehe”. Kataku sambil tertawa kecil.

“Kamu nih nakal banget ya malem-malem ngintipin Papa sama Mama gituan”. Kata Mamaku agak marah.

“Ya abisnya tadi suara kenceng sih makanya aku bisa denger. Oh ya Mama mau ngapain keluar kamar malem-malem gini?”

“Ini Mama mau ambil minum sama bersih-bersih dikit di kamar mandi”. Katanya sambil berjalan ke arah kamar mandi dan dapur meninggalkanku.

“Oh yaudah”. Jawabku pendek.

Karena sudah kadung bernafsu aku pun mengikuti Mama dan menungguinya di ruang makan. Setelah keluar kamar mandi dia pun langsung mengambil gelas dan meminum air yang ada di dispenser. Setelah minum saat melewati ruang makan dia pun bertanya padaku.

“Lho kirain udah balik ke kamar, kok kamu masih disini”. Tanya Mama padaku.

“Ma, aku kepengen nih”. Kataku sambil mendekati dan memeluknya pelan.

“Aduh nanti kalo ketahuan Papa sama adik-adik kamu bahaya”.

“Udah tenang aja Ma, mereka juga udah pada tidur, lagian aku tau kok Mama tadi gak puas main sama Papa”. Kataku merayunya. Mendengar rayuanku membuat Mamaku berpikir sejenak. Setelah berpikir sebentar Mama pun bicara padaku.

“Yaudah tapi mainnya di kamar kamu aja ya, biar aman”. Jawab Mamaku.

“Ma, nanti pas main Mama dandan dikit dulu ya terus anting-anting yang dibeli tadi siang dipake juga, soalnya aku lebih bergairah kalo ngentotin Mama sambil dandan terus pake anting-anting”. Kataku merayu sambil memeluknya erat-erat.

“Ih kamu nih dasar maniak, udah gitu ngomongnya pake ngentot-ngentot segala”. Kata Mama sambil mencubit hidungku.

“Abisnya aku udah gak tahan sama Mama”.

“Yaudah kamu duluan gih ke kamarnya, Mama mau dandan dulu sebentar terus nanti Mama nyusul”.

“Jangan lama-lama ya Ma”.

“Gak kok, palingan 10 menitan aja”.

“Ok, aku tunggu di kamar ya”.

Aku pun meninggalkan Mama lalu menuju kamarku. Oh aku sudah tidak sabar akan “bertempur habis-habisan” dengan Mamaku yang cantik dan mempesona ini. Selama menunggu aku pun sudah melepaskan pakaianku hingga telanjang bulat. Kontolku yang putih bersih berukuran 18 cm kukocok-kocok pelan.

Setelah menunggu 10 menit akhirnya Mamaku masuk kamar juga. Benar saja kali ini dia masuk dengan riasan make up tipis wajahnya dan juga anting-anting yang dibeli di Mall tadi. Melihat aku yang sudah telanjang bulat Mamaku pun hanya tersenyum.

“Udah gak sabar ya anak Mama? Hihihihi”. Katanya sambil tertawa kecil.

Karena sudah tidak tahan, aku pun langsung mendekatinya dan melepaskan kimono tidur yang dia kenakan hingga telanjang bulat. Aku pun langsung menarik tangannya lalu mendorongnya hingga terlentang di atas ranjang.

Aku pun langsung naik ke atas ranjang lalu mencumbuinya dengan ganas. Kuciumi seluruh tubuhnya dan Mama juga meremas-remas kontolku dengan kuat. Kami pun melakukan posisi 69 dimana aku menjilati memek Mamaku sementara Mama menjilat dan menghisap-hisap kontolku.

Sekitar 10 menit dalam posisi 69 kami pun melanjutkan ke permainan utama. Kulihat Mama memejamkan mata ketika kontolku mulai memasuki memeknya “BLESS SREET BLESS SREET BLESS SREET BLESS” masuklah kontolku ke dalam memeknya.

“Ohh Ohh gede banget punya kamu sayang, mentok banget rasanya”.

“Ohh Ohh punya Mama juga sempit banget Ohh Ohh”.

Aku pun menggauli Mamaku dengan rakus. Aku benar-benar bernafsu malam ini. Ingin kubuktikan pada Mama bahwa aku jauh lebih perkasa dari Papa yang loyo dan tidak bisa memuaskan hasrat seksual Mama. Kusodok Mamaku dengan kuat hingga membuatnya merintih-rintih keenakan.

“Ohh Mamaku yang cantik pake anting-anting Ohh Ohh Ohh!”

“Ahh Ahh pelan sayang Ahh Ahh!”

Aku dan Mama pun melakukannya dengan berbagai gaya. Kadang doggie style, kadang memangku, kadang miring menyamping semua kami lakukan dengan penuh gairah.

Ketika akan klimaks, aku dan Mama pun kembali dalam posisi misionaris. Aku menyodok-nyodokkan kontolku semakin kencang dan semakin dalam hingga kepala kontolku menyentuh benda kenyal nan nikmat di ujung memeknya. “Oh ini kan rahim Mama tempat aku dan adik-adikku dikandung dulu” kataku dalam hati. Ohh aku jadi semakin bergairah untuk menuntaskan permainan ini secepatnya.

“Mama, aku mau keluar terima ini Ohh Ohh Ohh CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT Aaaarrrrggghhhh!!!” Lenguhku sambil menyemprotkan spermaku 7 kali ke dalam rahim Mama.

“Ahh Ahh Mama juga keluar sayang Ahh Ahh CREETT CREETT CREETT CREETT CREETT!” Rintihnya yang juga telah mencapai klimaks. Setelah itu aku pun ambruk menindih tubuh montok Mamaku.

Aku pun mengatur nafasku sejenak lalu kuciumi lehernya yang putih mulus dan anting-antingnya yang cantik. Setelah itu aku juga menciumi kening, pipi, dan bibir indahnya. Setelah itu aku pun membuka percakapan dengannya.

“Gimana Ma, lebih puas mana sama Papa atau sama aku?”

“Ya jelas sama kamu dong sayang, kamu masih muda kuat lagi”. Katanya sambil memelukku erat-erat.

Kami pun menghabiskan waktu untuk saling bercengkrama dan bercanda satu sama lain. Terlihat wajah Mama yang begitu ceria berbeda dengan beberapa hari sebelumnya dimana Mama selalu terlihat cemberut dan gampang emosi.

Tak lama kemudian, nafsu seksualku pun kembali bangkit, aku pun mengutarakan hal tersebut pada Mama.

“Ma, sekali lagi yuk”. Ajakku padanya.

“Ya ampun kamu masih mau lagi sayang?” Tanya Mama sambil mengusap kepalaku.

“Iya Ma, ayo ini yang terakhir kok”.

“Yaudah tapi cepetan ya, soalnya besok kamu kan kuliah nanti kesiangan lho”.

Aku pun tak menjawab dan langsung mencumbu Mamaku dengan ganas. Ya kuciumi seluruh tubuhnya dari wajah hingga ke memek dan pahanya. Mamaku membalasnya dengan mengocok-ngocok kontolku hingga tegang maksimal.

Saat memeknya sudah cukup becek. Aku memasukkan kontolku yang besar putih dan panjang ini ke dalam memeknya “BLESS SREET BLESS SREET BLESS SREET” masuklah kontolku ke tempat aku dikandung dulu.

Aku pun mulai menyodoknya dengan kecepatan sedang. Kulihat Mamaku hanya memejamkan mata menikmati sodokanku dalam posisi misionaris ini.

“Plak Plak Plok Plak Plok Plak Plok”. Begitulah bunyi sodokan kontolku pada memeknya.

“Hashh Hashh pelan sayang, punya kamu gede banget Hashh Hashh!” Desah Mamaku menahan nikmat.

Ronde terakhir ini berlangsung hampir 20 menit. Aku dan Mama menikmati permainan ini walaupun tenaga kami sudah hampir habis. Saat akan keluar kupercepat sodokan kontolku hingga membuatnya menjerit-jerit. Kumasukkan kontolku dalam-dalam hingga menyundul mulut rahimnya dan:

“OHH Mamaku yang cantik pake anting-anting aku keluar Ma OHH OHH CROOT CROOT CROOT CROOT CUPP CUPP CUPP!” Kusemprotkan spermaku sebanyak 4 kali ke dalam rahimnya sambil menciumi anting-antingnya yang cantik.

“Ahh sayang CREETT CREETT CREETT CREETT”. Mamaku pun juga teriak karena mencapai puncaknya.

Karena kelelahan tubuhku pun ambruk menindih tubuh Mamaku. Kulihat Mama juga sangat kelelahan karena habis melayani aku dan Papa bermain seks malam ini.

“Ahh Mama aku puas banget CUPP CUPP CUPP”.

“Mama capek banget nih sayang, emangnya kamu makan apa sih kok bisa kuat banget gituin Mama”.

“Kan aku suka fitness di gym deket kampus terus juga abis fitness aku suka makan telor setengah Mateng makanya jadi kuat hehehehe”.

“Pantesan kamu kuat banget, Mama sampe lemes kayak gini. Kalo gitu, Mama ikut aerobik ah, biar bisa ngimbangin kamu”.

“Kebetulan di tempat aku fitness ada kelas Zumba khusus buat cewek Ma. Nanti aku daftarin Mama buat ikut senang Zumba disitu”.

“Makasih ya udah perhatian sama Mama CUPP”. Katanya sambil mencium kening dan mengusap-usap kepalaku.

“Ma, hhhmmm… Mama itu Boru Batak tercantik yang pernah ada di hidup aku”. Kataku malu-malu lalu memeluknya erat-erat.

“Emangnya di kampus kamu gak ada Boru Batak yang cantik?” Tanyanya sambil tersenyum manis karena mendengar pujianku.

“Kalaupun ada mereka gak secantik Mama”. Pujiku lagi yang membuat senyumnya jadi semakin manis.

“Yaudah nanti kamu kalo cari istri, carinya yang Boru Batak juga ya kayak Mama”. Kata Mama sambil mengusap kepalaku.

“Iya Ma”. Jawabku pendek.

“Yaudah Mama balik ke kamar ya, kamu juga cepet tidur kan besok kuliah”. Katanya sambil mendorong tubuhku lalu dia berdiri mengambil kimono tidurnya yang tergeletak di lantai dan memakainya kembali. Aku pun juga memakai baju dan celanaku kembali seperti semula.

“Ma, peluk dong sebelum pergi”. Pintaku padanya.

“Sini peluk Mama sayang”. Aku pun langsung memeluknya erat-erat lalu menciumi wajahnya dan memegangi anting-antingnya yang cantik. Sekitar 5 menit kami bermesraan di pinggir pintu kamarku.

“Udah ya sayang Mama mau balik dulu kamar”.

“Ok Ma”.

POV Diana Nasution

Perkenalkan namaku Diana Nasution. Aku adalah seorang wanita keturunan Batak Mandailing sekaligus istri dan Ibu dari tiga orang anak lelaki yang beranjak dewasa yaitu Alvin 21 tahun, Zafran 17 tahun, dan Arkan 13 tahun. Usiaku saat ini 45 tahun dengan wajah cantik, kulit putih mulus serta postur tinggi 165 cm berat 67 kg dan ukuran payudara 36C.

Awalnya pekerjaanku hanyalah Ibu rumah tangga biasa. Namun sejak 3 tahun belakangan ini usaha suamiku sedang menurun drastis akibat dari jatuhnya harga kelapa sawit. Hal itu menyebabkan kami harus menjual banyak aset kami di Medan sementara kami mempunyai tiga orang anak lelaki yang masih sekolah. Untuk menyelamatkan keluarga dari kebangkrutan berbekal modal dari suamiku Rizal, aku pun membuka usaha butik pakaian wanita dan menerima pesanan secara online.

Belakangan ini hubunganku dengan suamiku agak renggang. Ya selain sibuk dengan usaha masing-masing, aku menangkap ada rasa “minder” dari Bang Rizal melihat kesuksesanku berbisnis pakaian wanita. Padahal sebagai seorang istri aku tidak pernah mempermasalahkan materi, selama kami bisa hidup berkecukupan bagiku itu sudah baik bagi kami.

Kesibukan Bang Rizal mengurusi bisnisnya berdampak pada performa seksnya diatas ranjang. Aku tidak tahu apakah ini karena kelelahan atau karena dia “minder” denganku yang jelas performanya kurang memuaskan untuk wanita yang masih membutuhkan seks sepertiku. Ya kuakui di usiaku yang pertengahan 40an ini nafsu seksku masih cukup berkobar-kobar berbeda dengan Bang Rizal yang sudah masuk kepala lima dimana nafsunya sudah lumayan menurun.

Karena itulah belakangan ini aku suka uring-uringan dan sering marah-marah karena hal kecil. Parahnya seringkali ketiga anakkulah yang jadi sasaran kemarahanku. Apalagi aku tahu bahwa mereka semua adalah anak laki-laki jadi biasa agak malas jika harus berurusan dengan kebersihan rumah. Jika saja aku memiliki seorang saja anak perempuan, mungkin aku akan punya teman curhat untuk menumpahkan keluh kesahku.

Hari Sabtu ini aku ingat bahwa aku harus mengambil baju kebaya yang kutitipkan di rumah sahabatku Nita yang juga seorang penjahit untuk dipermak bagian pinggangnya. Karena sedang kecapean, aku pun menyuruh anak tertuaku Alvin untuk mengambilkan baju kebayaku karena besok rekan bisnis suamiku Dodi akan menikahkan anak perempuannya yang sulung.

Saat menyuruh Alvin untuk pergi, awalnya seperti biasa dia terlihat malas-malasan dan menolak perintahku. Mendengar itu sontak emosiku pun naik dan memarahinya. Karena tidak ingin berdebat terlalu panjang akhirnya dia pun menuruti perintahku dan pergi ke rumah Nita.

Selama menunggunya aku merenung di kamar sambil menangis. Aku merasa malang sekali nasibku ini. Sudah punya suami yang bisnisnya hampir bangkrut, performa seksnya pun payah di ranjang. Punya 3 anak lelaki pun seakan mereka tidak ada yang peduli denganku dan sibuk dengan urusannya sendiri. Hah dosa apa aku ini Ya Allah.

Aku pun menunggu kebayaku lumayan lama. Entah apa yang dilakukan Alvin sampai mengambil kebaya di rumah Nita yang jaraknya tak jauh dari rumahku saja lamanya hampir 3 jam. Mungkin saja dia bermain atau nongkrong dulu di rumah temannya jadinya sampai sekarang dia belum pulang. Tak lama kemudian Alvin pun pulang membawakan kebayaku dengan wajah berseri-seri.

Keesokan harinya tepat di hari Minggu. Aku pun meminta Alvin untuk menemaniku kondangan karena suamiku masih berada di Medan mengurus bisnisnya. Dia pun mengiyakan permintaanku dan bersedia menemaniku pergi kondangan malam ini.

Aku pun berdandan maksimal untuk malam ini karena banyak pejabat pemerintah dan rekan bisnis suamiku yang akan datang. Aku pun memakai make up yang agak tebal dan hair spray yang lumayan banyak untuk mensasak rambutku. Aku juga memakai anting-anting hoop bulat emas untuk menambah kecantikanku. Ya setelah selesai berdandan aku pun keluar kamar untuk mengajak Alvin pergi ke acara pesta.

Saat keluar kamar kulihat Alvin melongo melihat penampilanku. Ya dia begitu terpesona sampai-sampai bengong melihat Mamanya tampil begitu cantik malam ini. Aku pun senang rupanya penampilanku masih bisa menarik perhatian anak muda seperti Alvin. Karena takut telat aku pun langsung mengajaknya pergi ke tempat pesta meninggalkan Zafran dan Arkan yang sibuk bermain game di rumah.

Sepanjang perjalanan menuju ke tempat pesta selama di dalam mobil kulihat Alvin sering mencuri-curi pandang ke arah belahan dadaku. Ya kuakui kebaya yang kupakai ini cukup ketat dan berbelahan dada cukup rendah sehingga membuatku tampak semakin seksi. Aku pun berencana menutupnya dengan selendang saat akan tiba di tempat pesta nanti.

Saat tiba di tempat pesta, karena tak ingin risih dengan pandangan orang-orang nanti, aku berusaha menutupi belahan dadaku dengan selendang. Ketika aku akan menutupi dadaku dengan selendang Alvin pun menolaknya. Dia bilang untuk apa malu memiliki Mama yang cantik dan seksi sepertiku. Aku pun tersenyum mendengar kata-katanya dan langsung menggandeng tangannya menuju tempat pesta.

Di tempat pesta suasana cukup ramai, aku pun banyak menemui relasi bisnis suamiku dan juga pejabat pemerintah yang aku kenal. Saat akan memperkenalkan Alvin, banyak yang mengira dia adalah suamiku. Aku pun tertawa namun juga senang, karena dengan begitu aku dianggap masih pantas bersanding dengan Alvin anakku yang masih muda ini.

Saat acara berlangsung aku pun selalu menggandeng tangan Alvin kemana pun aku pergi. Ya aku senang bisa ditemani oleh anakku yang tampan dan gagah ini. Wajah Alvin mengingatkanku pada almarhum Ayahku atau biasa dipanggil Oppung Doli oleh cucu-cucunya. Ya mereka berdua sangat mirip bagai pinang dibelah dua.

Saat sedang asyik berputar-putar di area pesta, kondisi lampu yang sengaja dibuat remang-remang di bawah pohon hias yang rindang, tanpa sengaja kulihat ada wanita seumuranku yang sedang berciuman mesra dengan seorang lelaki. Alvin yang sedang menggandeng tanganku langsung menghindarinya dan bertanya apakah aku melihat orang yang sedang berciuman tadi.

Karena makanan di acara pesta lumayan enak, aku pun jadi lupa diri disitu. Aku makan banyak sekali malam itu. Sebenarnya belakangan ini aku sudah berusaha diet karena melihat postur tubuhku yang kurasa agak

“Over weight” dengan tinggi 165 cm dan berat 67 kg sekalipun ukuran payudaraku 36C namun aku merasa tubuhku masih terlihat gemuk. Namun makanan malam ini membuatku lupa dengan dietku.

Setelah acara selesai kami berdua pun memutuskan untuk pulang. Saat berada di dalam mobil, aku pun menyenderkan kepalaku pada bahunya dengan manja. Dia pun membalasnya dengan mencium pipiku lalu menghisap-hisap payudaraku yang keluar dari atas baju kebayaku. Aku pun mengingatkannya untuk tidak berbuat lebih jauh karena ini adalah tempat parkir yang bisa saja ketahuan.

Singkat cerita kami pun sampai dirumah. Kulihat keadaan rumah sudah sangat gelap karena kedua anakku yang lain yaitu Zafran dan Arkan beserta Mbok Nur sudah tidur. Alvin pun langsung masuk ke kamarku sementara aku menaruh sepatuku di rak baru menuju kamar.

Saat tiba di kamar, aku pun langsung mengunci pintu dan kulihat Alvin sedang rebahan di ranjangku dalam keadaan hanya menyisakan kaos singlet dan celana panjang. Aku pun ikut rebahan di sampingnya sambil menyenderkan kepalaku di bahunya.

Aku pun menanyakan padanya apakah dia makan banyak tadi. Dia hanya menjawab lumayan. Aku pun menjawab dengan manja bahwa aku terlalu banyak sehingga gagal diet malam ini. Mendengar desahan manjaku rupanya membuat Alvin tidak tahan. Dia pun langsung menciumiku dan membuka kebayaku sambil menaikkan BH-ku.

Singkat cerita setelah saling bercumbu sebentar, karena sudah sama-sama tidak tahan aku pun langsung naik ke atas tubuhnya dan memasukkan kontolnya yang berukuran jumbo itu ke dalam memekku. Aku pun menggenjotnya dengan cepat. Ya karena sudah beberapa hari ini tidak mendapat jatah dari suami membuatku sangat bernafsu.

Tak lama kemudian kurasakan Alvin menyemprotkan spermanya dengan cukup banyak ke dalam rahimku. Aku yang juga sudah tidak tahan mempercepat goyanganku pada kontolnya. Tak lama kemudian aku pun klimaks dan memeluknya erat-erat.

Setelah klimaks aku pun melepaskan kontolnya dari memekku. Setelah itu semua pakaianku aku lepas hingga telanjang bulat lalu tidur menyamping menghadap Alvin. Aku dan Alvin pun menghabiskan waktu sambil berciuman dan mengobrol ringan.

Alvin pun menanyakan tentang perangai ku belakangan ini yang dia nilai jadi lebih emosian dan suka marah-marah. Awalnya aku hanya berkelit dan bilang aku marah karena sikapnya yang pemalas. Namun karena dia terus mendesak akhirnya aku pun menceritakan tentang kondisi keuangan keluarga kami sambil berlinang air mata.

Tak lama kemudian dia pun menagih ronde kedua. Kami melakukannya dengan berbagai gaya seperti misionaris,

_doggie style, _ menyamping dll. Selama 30 menit kami bercinta di ronde kedua ini sampai akhirnya Alvin kembali memuntahkan sperma kentalnya ke dalam rahimku dan karena kelelahan tubuhnya pun ambruk menimpa tubuhku.

Selama dia menyetubuhiku, Alvin seringkali mencium dan memegang anting-antingku yang masih terpasang di telingaku. Aku pun menanyakan perilakunya ini. Dia hanya menjawab bahwa aku terlihat lebih cantik jika memakai anting-anting. Aku tak lantas percaya begitu saja. Karena dari tatapan mata dan denyutan kontolnya di memekku aku merasakan ada hal lain.

Ngeres jika melihatku memakai anting-anting. “Dasar anak aneh hihihi” kataku dalam hati. Namun aku memaklumi tingkahnya ini karena pemuda seumuran dirinya memang sedang panas-panasnya dengan perempuan.

Singkat cerita malam itu kami melakukannya hingga 3 kali. Aku pun lemas karena tenaga Alvin luar biasa kuatnya. Saat menjelang tidur aku pun mengelap sperma Alvin yang keluar dari memekku lalu memutuskan untuk tidur sambil memeluknya dari samping.

Paginya aku pun terbangun, saat terbangun dan berdiri ternyata aliran sperma Alvin keluar lagi dari memekku. “Ya ampun sayang, banyak banget sih spermamu, nanti kalo Mama hamil gimana?” Kataku sambil menatap Alvin yang masih tertidur lelap. Aku pun langsung bergegas mandi karena ingin ke Mall untuk belanja dengan Alvin seperti yang aku janjikan tadi malam sebelum tidur.

Setelah mandi dan berpakaian ada suara ketukan dari luar, saat kulihat rupanya Mbok Nur pembantuku mau masuk ke dalam kamar untuk menyapu di pagi. Aku pun merapikan selimut Alvin supaya dia tidak tahu Alvin tidur telanjang.

“Bu, kok Mas Alvin tidur disini?” Tanya Mbok Nur.

“Iya Mbok soalnya tadi malem tiba-tiba badannya anget gitu makanya daripada gak ada yang ngurusin di kamarnya ya mendingan tidur sama saya”. Kataku berbohong.

“Tapi Mas Alvin udah dikasih obat sama dikompres kan Bu?” Tanyanya lagi.

“Udah kok Mbok, tadi malem udah dikasih obat sama dikompres, palingan hari ini juga udah baikan”. Jawabku padanya.

“Yowis kalo gitu Mbok mau bersih-bersih dulu ya Bu”

“Ya Mbok silahkan”.

Setelah Mbok Nur selesai merapikan, aku pun langsung pergi ke ruang makan lalu memanggil kedua anakku yang lain Zafran dan Arkan untuk sarapan dan pergi sekolah. Mereka berdua pun turun dan sarapan bersamaku.

“Ma, Bang Alvin mana kok gak keliatan?” Tanya anak bungsuku Arkan.

“Abang tadi malem badannya demam, makanya Mama biarin dia istirahat dulu di kamar”. Jawabku padanya.

Selesai makan Zafran dan Arkan pun pamit cium tanganku untuk pergi sekolah. Mereka boncengan naik motor karena sekolah mereka searah. Aku pun berpesan pada Zafran agar hati-hati dalam berkendara.

“Zafran, hati-hati ya di jalan, jangan ngebut-ngebut nanti adekmu celaka”.

“Beres Ma, yaudah aku pergi dulu ya Assalamualaikum”. Katanya sambil pamit padaku.

“Waalaikumsalam”.

Selesai mengurus Zafran dan Arkan aku pergi ke kamar Alvin untuk mengambil baju dan handuknya lalu membangunkannya. Dia pun bangun dan bertanya kemana kedua adiknya. Aku hanya menjawab bahwa kedua adiknya telah berangkat sekolah. Aku menyuruhnya untuk mandi cepat karena hari ini kami mau belanja ke Mall.

Pagi itu aku memakai baju warna coklat lengan pendek dan celana jeans warna putih. Aku juga memakai anting-anting hoop bulat emas seperti yang kupakai di acara kondangan semalam dan kalung emas bertuliskan huruf D yaitu inisial dari namaku Diana. Aku juga merias wajahku dengan make up yang tidak terlalu tebal supaya mengesankan aku lebih muda.

Alvin pun selesai mandi lalu dia pun memakai baju yang aku pilihkan. Saat melihat penampilanku dia pun takjub dan memuji kecantikanku. Aku pun hanya tersenyum dan mengajaknya bergegas untuk pergi ke Mall.

Sampai di Mall sekitar jam 10 kulihat sudah banyak toko yang mulai buka. Aku pun langsung berburu pakaian yang aku inginkan. Aku juga menyuruh Alvin untuk membeli pakaian karena aku tahu banyak pakaiannya yang sudah kekecilan dan robek-robek. Setelah selesai berbelanja pakaian, aku pun pergi ke tempat yang menjual aksesoris wanita.

Selesai belanja aku dan Alvin pun makan siang di restoran fast food yang menjual ayam goreng. Selama makan kulihat banyak pasang mata yang melihat ke arah kami. Mungkin mereka berpikir kami adalah sepasang kekasih yang tengah kencan di siang hari. Dalam hati aku pun senang jika mereka berpikir aku masih pantas dianggap sebagai pacarnya Alvin.

Setelah makan aku dan Alvin pun pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan pulang kami berdua asyik bercanda dan bercengkrama tentang banyak hal satu sama lain.

Sampai dirumah sekitar jam 3 sore, aku dan Alvin pun masuk ke dalam kamarku untuk mencoba semua pakaian dan anting-anting yang kubeli tadi. Kulihat Alvin begitu terpesona melihatnya. Karena tergoda dia pun mengajakku berhubungan seks sore itu. Awalnya aku menolak karena takut ketahuan oleh suami dan kedua anakku yang lain.

Selesai orgasme kami pun berpelukan sejenak lalu setelah itu aku menyuruhnya untuk keluar kamar dan mandi. Aku pun juga mandi di kamar mandi dalam untuk membersihkan sisa-sisa persetubuhan kami. Selesai mandi aku pun berpakaian dan berdandan sebentar dengan memakai make up tipis dan anting-anting yang kubeli tadi.

“Papa, kapan sampe di Jakarta?” Tanyaku sambil mencium tangan dan mencium pipinya.

“Tadi jam setengah 3 sore Papa sampe di Cengkareng abis itu Papa pesen taksi online buat jalan ke rumah”.

“Tadi macet gak Pa?” Tanyaku padanya.

“Wah lumayan macet Ma soalnya tadi hampir bersamaan sama jam pulang kantor. Untung aja tadi lewat jalan pintas jadingnya Papa cepet sampe rumah”.

“Yaudah kalo gitu Papa mandi dulu gih biar seger lagi”.

“Iya, eh tumben Mama dandanannya cantik kayak gini”. Puji suamiku.

“Ah Papa bisa aja, emangnya dulu-dulu Mama gak cantik apa?” Kataku memanyunkan bibir.

“Ya cantik sih cuma hari ini keliatan agak beda gimana gitu”. Kata suamiku terpesona.

“Udah ah, Mama mau ke dapur dulu bantuin Mbok Nur masak buat makan malem. Papa mandi dulu aja gih”. Kataku ngeloyor sambil meninggalkan suamiku di ruang keluarga

“Iya Ma”. Jawab suamiku pendek.

Malamnya kami sekeluarga berkumpul untuk makan malam. Selama makan tidak banyak pembicaraan yang ada namun kulihat Alvin sering curi-curi pandang melihat dandananku malam ini yang memang berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Selesai makan Alvin pun langsung menuju kamar untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Aku suami dan kedua anakku yang lain pun menghabiskan waktu di ruang keluarga untuk menonton TV, ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, aku menyuruh Arkan dan Zafran untuk tidur karena besok mereka masih harus sekolah.

Selama di kamar aku dan suamiku pun mengobrol tentang bisnis sawit kami di Sumatera Utara.

“Pa, gimana kemaren urusannya disana?”

“Ya begitulah Ma, karena harga dunia lagi turun makanya bisnis sawit lagi lesu belakangan ini”. Keluh suamiku.

“Yaudah Papa sabar aja, lagian Mama kan masih punya usaha butik buat menuhin kebutuhan. Jadi kita gak bakalan jatuh miskin”. Terangku padanya.

“Tapi kan Papa malu. Masak suami bergantung sama istrinya”. Kata suamiku malu.

“Udah Papa gak perlu malu, kan modal buka butik itu dari uang Papa juga jadi secara gak langsung itu usaha kita berdua cuma ya secara operasional Mama yang jalanin butik itu”. Kataku membesarkan hatinya.

“Iya juga sih Ma”. Balas suamiku.

“Yaudah sekarang tidur yuk, Papa juga pasti capek banget kan baru pulang dari Medan”.

“Yuk Ma”. Katanya sambil memeluk tubuhku dari samping.

Sekitar jam 2 kurang aku merasakan tubuhku bergoyang-goyang. Saat kubuka mata kulihat suamiku sedang menggenjotku dari atas. Ya kontolnya yang tidak sebesar Alvin sedang sibuk mengaduk-aduk memekku. Aku pun hanya memejamkan mata menikmati permainan ini. Namun di tengah-tengah kenikmatan itu suamiku mulai menyodokku dengan cepat.

“Ahh Papa keluar Ma, CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT!” Keluarlah cairan sperma suamiku mengisi memekku.

“Yah Papa, Mama kan belum dapet”.

“Maaf ya Ma, abisnya punya Mama legit banget Papa jadi gak tahan Ohh”. Katanya sambil melepaskan kontolnya dari memekku lalu tidur membelakangi tubuhku.

Karena kesal, aku pun keluar kamar untuk minum dan membersihkan tubuhku. Saat membuka pintu aku kaget setengah mati. Ternyata Alvin mengintip apa yang aku lakukan tadi bersama Papanya. Dia pun meminta maaf tidak sengaja mengintipku karena dia malam itu juga haus dan kebelet kencing. Mendengar penjelasannya aku lalu meninggalkannya untuk minum dan kencing.

Setelah selesai dari kamar mandi dan juga minum kulihat ternyata Alvin masih di ruang tamu menungguku. Melihatku selesai menuntaskan hajat dia pun kembali meminta jatah seks untuk malam ini, awalnya aku menolak karena ini sudah malam. Namun karena dia terus mendesak akhirnya kuturuti kemauan dirinya dengan syarat dilakukan di kamar Alvin dan tidak boleh berisik.

Saat sampai di kamar aku pun berdandan sebentar, memakai parfum dan juga anting-anting yang dibeli tadi untuk menggodanya malam ini. Saat akan keluar kamar kutatap wajah suamiku yang sedang tertidur dan berkata.

“Pa, maaf ya, malam ini Mama mau main sama Alvin soalnya tadi Papa gak bisa puasin Mama, nanti kalo udah selesai Mama balik lagi ya”. Kataku lalu keluar dari kamar.

Ketika sampai di kamar Alvin ternyata dia sudah tidak berpakaian sama sekali alias telanjang bulat. Terlihat kontolnya yang putih bersih berukuran 18 cm dan diameter 4 cm sudah mengacung-acung ke arahku. Aku pun tersenyum melihat tingkahnya kali ini. Karena sudah bernafsu dia pun melucuti kimono tidurku lalu menyeretku ke atas ranjang.

Malam itu kami melakukannya sampai dua ronde. Dia pun menyemprotkan spermanya sampai habis ke dalam rahimku. Terakhir ketika selesai berhubungan dia memujiku kalo aku adalah Boru Batak tercantik yang pernah ada di hidupnya. Aku pun tersenyum mendengarkan pujiannya. Setelah selesai bercengkrama akhirnya aku pun bangkit dari ranjangnya dan mengenakan kimonoku kembali lalu memeluk Alvin dengan erat sebagai tanda perpisahan malam ini lalu kembali ke kamar untuk tidur bersama suamiku.

Saat tiba di kamar dan duduk di tepi ranjang, kurasakan sperma Alvin meluber keluar dari memekku. Spermanya keluar banyak sekali dan terasa sangat kental. Jujur ada perasaan was-was dalam diriku mengingat aku masih tergolong produktif alias rutin menstruasi setiap bulannya walaupun usiaku sudah menginjak 45 tahun.

part 3

POV Alvin

Mamaku Diana Nasution

Sudah hampir sebulan ini aku dan Mama menjalani hubungan spesial. Ya kami sering bercinta secara sembunyi-sembunyi dimana pun di sudut rumah kami. Untunglah kami tidak pernah ketahuan oleh Papa maupun kedua adikku Zafran dan Arkan.

Satu hal yang kusenangi adalah perubahan penampilan Mama yang jadi lebih cantik dari sebelumnya. Yang dulunya jarang make up jadi lebih sering make up. Mama juga menepati janjinya dengan memakai anting-anting setiap hari baik di dalam maupun di luar rumah yang membuatnya menjadi terlihat lebih manis.

Oh ya kebetulan hari ini aku sedang tidak ada jadwal kuliah. Aku pun memutuskan untuk mengisi waktuku dengan membantu Mama di butiknya. Butik milik Mama tidaklah terlalu besar namun cukup nyaman dengan AC dan wallpaper unik. Sehari-hari mama dibantu oleh dua orang karyawannya yaitu Yanti dan Santi untuk menjalankan bisnisnya.

Tepat jam 8 malam setelah menghabiskan makan malam berupa nasi Padang di butik bersama Mama, kami pun memutuskan untuk pulang. Mama meninggalkan butiknya dan menitipkan kunci pada Yanti dan Santi. Dalam kesehariannya Mama memang sangat mempercayai Yanti dan Santi sehingga mereka berdua mendapatkan akses berupa kunci butik sehingga kalaupun Mama tidak ada di tempat usaha butik tetap berjalan normal.

Saat berada di jalan terlihat jalanan Jakarta macet sekali. Memang jam segini adalah jam orang pulang kantor sehingga tak mengherankan jika jalanan Jakarta macet dimana-mana. Selama menunggu macet, melihat tubuh Mama yang seksi ini membuat kontolku jadi mengeras luar biasa. Karena sudah tidak tahan aku pun mencari siasat untuk melampiaskan hasrat seksualku malam ini pada Mama.

“Aduh macet banget Ma malem ini”.

“Iya nih, bisa kemalaman nih kita sampe dirumah”.

“Ma, kita lewat jalan pintas aja ya biar cepet”.

“Emangnya kamu tau jalan pintasnya lewat mana?”

“Tau lah Ma tenang aja”.

“Aduh Mama jadi takut nih, jangan-jangan ntar kamu malahan culik Mama lagi”. Kata Mamaku bercanda.

“Ya cewek secantik Mama sih emang pantes kok buat diculik hehehehe”.

“Ih kamu mah bercandanya kayak gitu”. Kata Mama memanyunkan bibirnya.

“Yaudah aku putar balik sekarang ya”

“Iya deh yang penting cepet sampe rumah”. Kata Mamaku.

Aku pun membawa Toyota Fortuner kami melewati jalur pintas. Aku tahu jalanan ini karena sering melewatinya jika berkendara sendirian baik dengan mobil maupun motor. Jalanan ini bisa dibilang cukup sepi sehingga aku bisa melakukan aksiku kepada Mama secara leluasa tanpa ada yang mengintip.

“Kok sepi gini sih jalanannya Vin?” Tanya Mamaku.

“Udah yang penting kita cepet sampe rumah”.

Setelah berjalan cukup jauh akhirnya kami sampai di pinggiran lapangan bola yang kosong dimana saat kondisi cukup sepi dan gelap. Aku pun langsung meminggirkan mobil di pinggiran lapangan dan mematikan lampu luar lalu menyalakan lampu dalam sambil membiarkan mobil tetap hidup dan ber-AC.

“Vin, kok kita berhenti sih? Mama takut ah mendingan kita balik lagi aja lewat jalan besar tadi”.

“Udah Mama tenang aja, mendingan sekarang kita seneng-seneng dulu nunggu macetnya reda Hhhhmmmm…” Kataku sambil memeluk tubuhnya erat-erat.

“Ahh Alvin kamu apa-apaan sih! Nanti kalo ketahuan orang gimana?” Protes Mamaku agak marah.

“Tenang aja Ma, ini daerah sepi kok, lagipula mobil kita kan pake kaca film jadi gak bakal tembus pandang dari luar CUPP CUPP CUPP”. Kataku sambil menciumi wajahnya.

Aku pun terus menciumi wajahnya dari kening, pipi, bibir, leher dan anting-antingnya yang cantik. Mamaku pun hanya mendesah pelan dengan tingkahku ini. Karena tidak tahan aku pun meminta Mama untuk pindah ke kursi tengah yang ada di belakang kursi depan.

“Ma pindah ke kursi tengah yuk”.

“Yaudah deh tapi cepetan ya”.

Akhirnya kami pun pindah ke kursi tengah. Sampai di kursi tengah aku pun melucuti semua pakaianku hingga telanjang bulat. Mama pun juga melepaskan dress-nya berikut dengan BH dan celana dalam hingga telanjang bulat sama sepertiku. Semua pakaian kami letakkan di kursi paling belakang.

Setelah selesai pakaian, aku pun merebahkan Mamaku di kursi tengah dan mulai mencumbuinya. Kucium mulai dari wajahnya yang cantik, lalu turun ke lehernya yang mulus, teteknya yang montok, perutnya yang seksi dan berisi, pahanya yang mulus, hingga ke memeknya yang merah merekah. Mama pun juga memegang kontolku yang putih dan besar berukuran 18 cm dan memijat-mijatnya dengan pelan.

Setelah saling mencumbu, karena tidak tahan aku pun mulai memasukkan kontolku ke dalam memeknya. BLESS SREET BLESS SREET BLESS!” Masuklah kontol besarku ke dalam memeknya.

“OHH sayang pelan-pelan, punya kamu gede banget OHH OHH OHH!”

Aku pun mulai menyodoknya dengan cepat. Kuciumi dan kuhisap-hisap teteknya yang montok itu.

“OHH OHH Mama cantik pake anting-anting CUPP CUPP OHH OHH!!!” Kataku sambil menciumi anting-anting cantik di kedua telinganya.

Sodokanku yang keras pada memek Mama membuat mobil kami bergoyang-goyang. Walaupun di dalam hati sedikit terbersit rasa khawatir akan ketahuan, namun karena pikiranku sedang dikuasai nafsu birahi maka aku tidak terlalu memikirkan hal tersebut.

Selanjutnya kami pun berganti gaya menjadi gaya pangku. Aku pun duduk sambil memangku Mama lalu kumasukkan kontolku ke dalam memeknya. Dalam posisi ini aku merasa leluasa bisa mengenyoti puting tetek Mama yang montok. Aku pun menggenjot Mama dari bawah sedangkan Mama menggoyang-goyangkan meremas kontolku.

Tak lama kemudian, aku pun merasa ingin keluar. Kupercepat sodokan kontolku pada memeknya hingga menyentuh mulut rahimnya.

“OHH OHH Mama aku keluar OHH OHH CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT!” Kusemprotkan spermaku sebanyak 8 kali semprotan ke dalam rahimnya.

“Ahh Ahh Ahh sayang Mama keluar Ahh Ahh CREETT CREETT CREETT CREETT!” Teriak Mamaku yang juga telah mencapai orgasmenya. Tak lama kemudian tubuh Mamaku pun ambruk sambil memeluk tubuhku erat-erat.

“Gila kamu Vin, ngajak Mama gituan di dalem mobil”. Kata Mama masih memelukku erat-erat.

“Tapi Mama puas kan hehehehe”. Kataku padanya.

“Iya sih, tapi Mama takut aja kalo kita tiba-tiba digrebek orang”.

“Santai Ma, di daerah sini sepi kok, mau main sampe tengah malem juga gak bakal ada yang liat”.

“Ya gak sampe tengah malem juga sayang, badan Mama bisa-bisa remuk sampe rumah dihajar sama kamu”.

Selama 10 menit kami dalam posisi tersebut. Tak lama kemudian nafsuku pun mulai bangkit lagi.

“Ma, lagi yuk, aku gak tahan nih”.

“Aduh sayang, Mama udah capek digenjot sama kamu”.

“Ya ini yang terakhir deh Ma”

“Yaudah tapi Mama tiduran aja ya”

“Ok”.

Akhirnya kutelentangkan Mamaku di jok mobil. Aku pun kembali mencumbunya sebentar lalu ketika memeknya sudah basah kontolku pun masuk dengan mudah ke dalam memeknya lagi. “BLESS SREET BLESS SREET BLESS SREET!” Kumasukkan dalam-dalam kontolku sampai menyentuh mulut rahimnya.

Aku pun kembali menggenjot tubuh Mama dengan cepat. Kulihat Mama hanya memejamkan mata sambil mendesah pelan menikmati sodokan kontolku di dalam memeknya. Teteknya yang montok pun kujilati dan kukenyot-kenyot putingnya yang berwarna coklat muda.

Malam itu aku menggenjot Mama habis-habisan. Aku benar-benar bernafsu untuk menikmati setiap jengkal tubuhnya yang cantik, montok dan indah ini.

“Alvin, pelan-pelan sayang, Mama udah capek Ahh Ahh Ahh!” Kata Mama memperingatkanku sambil mendesah.

“Uhh Uhh Mama cantik, montok pake anting-anting aku gak tahan Ma CUPP CUPP Ohh Ohh Ohh!” Teriakku sambil menciumi anting-antingnya.

Tak lama kemudian, aku merasa spermaku akan keluar lagi. Kupercepat sodokan kontolku pada memeknya. Ketika sudah diujung tanduk, aku pun menyodoknya dalam-dalam hingga menyentuh mulut rahimnya.

“Mamaku cantik pake anting-anting aku keluar OHH OHH OHH CUPP CUPP CROOT CROOT CROOT CROOT CROOT!” Keluarlah spermaku sebanyak 5 kali semprotan ke dalam rahimnya.

“Ahh sayang Mama juga keluar Ahh Ahh CREETT CREETT CREETT CREETT CREETT!” Teriak Mamaku yang juga telah mencapai orgasmenya. Setelah sama-sama menyemprotkan cairan orgasme masing-masing akhirnya tubuhku pun ambruk menindih tubuh Mamaku.

“Mama cantik banget kalo pake anting-anting kayak gini, Mama jadi keliatan gimana gitu… CUPP CUPP CUPP CUPP!” Kataku memeluknya erat-erat sambil menciumi anting-anting cantik di kedua telinganya.

“Emangnya Mama keliatan kayak gimana kalo pake anting-anting setiap hari?” Tanya Mamaku sambil tersenyum dan mengusap-usap kepalaku.

“Keliatan lebih feminin gitu CUPP CUPP”. Kataku sambil mencium bibirnya.

“Bisa aja kamu mujinya CUPP CUPP”. Kata Mama membalas ciumanku di bibirnya. Kami pun bermesraan satu sama lain. Tak lama kemudian Mama pun mengajakku pulang

“Nak, ayo kita pulang. Udah malem nih nanti orang rumah pada nyariin kita lagi”.

“Ntar dulu Ma, aku masih pengen mainin anting-anting sama tetek Mama dulu”. Kataku merengek manja

“Aduh sayang, kalo kayak gitu kita kapan pulangnya”.

“Sebentar aja kok Ma, ntar kalo aku udah puas kita pasti pulang”.

“Aduh kolokan banget sih anak Mama, yaudah tapi maininnya sebentar aja ya terus kita pulang”. Kata Mama pasrah menuruti keinginanku

Setelah puas memainkan anting-anting cantik dan teteknya yang montok, aku dan Mama pun memutuskan untuk pulang dan memakai kembali memakai baju kami. Saat akan memakai baju kulihat Mama mengambil tissue lalu membersihkan ceceran spermaku yang dari dalam memeknya. Kulihat Mama begitu sabar dan telaten membersihkan sisa-sisa persetubuhan kami.

Selesai berpakaian, kami pun kembali duduk kursi depan. Aku pun mematikan lampu dalam dan kembali menyalakan lampu luar. Setelah siap semua, aku pun kembali menjalankan mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah. Saat itu jam di mobil menunjukkan pukul 11 malam. Kulihat Mama sedang tertidur di sampingku sambil menyenderkan kursinya ke belakang.

Kurang lebih ketika waktu menunjukkan hampir jam 12 malam, akhirnya kami pun sampai dirumah. Saat sampai aku pun membangunkan Mamaku yang masih tertidur.

“Ma, bangun Ma, kita udah sampe rumah ini”. Kataku membangunkan sambil menggoyang-goyanhkan tubuhnya. Tak lama kemudian Mama pun membuka matanya.

“Eh udah sampe ya sayang, maaf ya soalnya Mama tadi kecapean banget abis digenjot sama kamu”.

“Udah gak apa-apa, yaudah sekarang Mama buka pintu ya kan Mama yang pegang kunci”.

“Iya sayang, ayok turun”. Ajak Mamaku.

Kami pun turun dari mobil lalu membuka pintu rumah. Saat ini suasana rumah sangat sepi karena Papa ada tugas keluar kota, sementara kedua adikku dan Mbok Nur pembantuku sudah tidur di kamarnya masing-masing.

“Sayang, Mama istirahat dulu ya”.

“Gak mandi dulu Ma, kan Mama tadi keringetan banget”.

“Iya mandi lah sayang, tapi palingan Mama mandi cepet terus abis itu mau langsung tidur deh”.

“Yaudah kalo gitu aku ke kamar dulu ya Ma, dadah Mama”. Kataku melambaikan tangan.

“Dadah sayang”. Kata Mama sambil melambaikan tangan juga padaku.

Aku pun langsung masuk kamar dan mengambil handuk untuk mandi. Malam ini mandiku terasa nikmat karena sehabis berhubungan seks dengan Mama tadi di mobil. Setelah selesai mandi aku pun langsung menuju ke kamarku dan memakai baju tidur lalu tidur dengan nyenyak sekali.

2 Bulan Kemudian

Hubunganku dengan Mama berjalan lancar. Ya kami memang cukup pintar dalam menyembunyikan hubungan incest diantara kami berdua hingga tidak ada yang tahu. Kami sering melakukannya di seantero sudut rumah. Bahkan yang paling sensasional kami pernah melakukannya di dalam kamar Mama saat Papa sedang tertidur. Tentunya saat itu Papa sudah kuberi obat tidur dosis tinggi sehingga dia tidak akan bangun. Ya begitulah gambaran hubungan antara aku dan Mama.

Pagi itu karena tidak ada jadwal kuliah aku pun bangun dengan santai lalu turun ke bawah untuk mengambil sarapan. Saat sampai di meja makan, dari arah dapur kudengar ada suara orang yang sedang muntah-muntah. Sewaktu kulihat ternyata itu adalah Mama.

“HOEK… HOEK… HOEK… HOEK!” Teriak Mamaku sambil muntah-muntah di wastafel dapur.

“Mama kok muntah-muntah sih? Lagi sakit ya?”

“Gak kok, Mama cuma pusing dikit aja”.

“Ibu kenapa, mau Mbok kerokin?” Tanya Mbok Nur yang tiba-tiba menghampiri kami.

“Gak usah Mbok, saya mau istirahat di kamar aja”.

“Yaudah kalo gitu aku anterin ya Ma”. Ajakku sambil membopong tubuh Mama menuju kamarnya.

part 4 end

POV Diana Nasution

Sudah hampir 3 bulan ini aku menjalin hubungan khusus dengan anakku sendiri yaitu Alvin. Selama 3 bulan ini aku menjadi lebih bersemangat dan terasa lebih segar. Aku pun mengikuti sarannya untuk latihan zumba selama seminggu 3 kali. Hasilnya tubuhku jadi semakin sehat dan berat badanku pun sedikit menurun dari 67 kg ke 64 kg.

Selanjutnya dalam masalah hubungan intim, kami berdua cukup pintar untuk menutupinya sehingga tidak ada yang mencium hubungan khusus antara aku dan anak lelakiku. Hal yang paling sensasional yang pernah kulakukan bersama Alvin adalah ketika kami melakukannya di dalam mobil saat pulang dari butik di pinggir lapangan kosong dan juga di samping Papanya saat sedang tertidur.

Satu hal yang jadi ketakutanku adalah Alvin selalu membuang spermanya di dalam rahimku. Sebenarnya aku sudah mencoba mengingatkannya namun mulutku sendiri sepertinya susah untuk berbicara padanya perihal kemungkinan kehamilan yang akan terjadi padaku jika dia tetap membuang spermanya ke dalam rahim.

Pagi ini aku tiba-tiba merasa pusing dan mual. Aku pun coba menahannya namun karena sudah tidak kuat akhirnya aku pun muntah-muntah di wastafel dapur. Saat kulihat bentuk muntahku berwarna putih. Aku pun merasa kaget dan panik dalam hati. “Ya Allah apakah aku hamil?” Sudah lebih dari sebulan ini aku tidak datang bulan alias menstruasi” kataku dalam hati.

Sampai di kamar Alvin pun menaruh badanku di atas ranjang sambil posisi kepalaku tegak lurus menyender ke tepi ranjang. Dia pun memberikan minum padaku dan mulai bicara.

“Ma, mendingan kita ke dokter yuk, mumpung aku lagi libur kuliah ini”.

“Makasih Vin, tapi kayaknya Mama cuma butuh istirahat sedikit deh”. Kataku bersikeras.

“Ma, aku khawatir sama Mama, udah deh gak usah sok kuat, mendingan sekarang Mama siap-siap ganti baju terus kita pergi ke dokter sekarang”. Paksa Alvin padaku.

“Yaudah kalo gitu anterin Mama ke dokter sekarang ya”. Kataku menurut pada Alvin.

“Ok aku ganti baju dulu ya”. Kata Alvin padaku.

Setelah berganti baju, aku dan Alvin pun pergi ke dokter menggunakan mobil Toyota Fortuner milik kami. Sepanjang perjalanan aku dan Alvin tidak banyak bicara satu sama lain. Dia lebih fokus menyetir mobil menuju rumah sakit.

Sampai di rumah sakit kami pun segera mendaftar untuk mendapatkan antrian dokter. Aku dan Alvin pun menunggu di depan ruang dokter. Setelah menunggu sekian lama akhirnya sampai juga giliranku untuk dipanggil. Aku pun masuk seorang diri meninggalkan Alvin yang menunggu di kursi tempat menunggu.

Saat masuk kulihat dokter yang bertugas seorang perempuan berjilbab berusia sekitar pertengahan 20an. Dia pun dengan ramah mempersilahkan aku duduk dan menanyakan apa keluhanku.

“Ibu apa keluhannya”

“Iya saya akhir-akhir suka ngerasa pusing gitu terus tadi pagi saya muntah-muntah dok”.

“Muntahnya kayak gimana Bu?”

“Ya muntahnya warna putih gitu”.

“Hhhmmm… Tanda-tanda orang hamil tuh Bu hihihihi”. Katanya tertawa kecil.

“Ah masak sih dok, umur saya kan udah 45 masak masih bisa hamil”. Kilahku padanya.

“Ya bisalah Bu. Perempuan itu selama masih menstruasi ya masih bisa hamil walaupun usianya udah diatas 40 tahun. Apalagi Ibu orangnya cantik terus awet muda gini, ya masih pantes lah buat nimang anak lagi hihihihi”. Katanya lagi sambil tertawa kecil.

“Ah dokter bisa aja”. Kataku padanya.

“Yaudah sekarang Ibu tiduran di ranjang ya biar saya periksa”. Perintahnya padaku. Aku pun menurutinya lalu naik ke atas ranjang periksa.

Setelah memeriksa tubuhku dengan stetoskop dan menekan-nekan perutku akhirnya kami pun kembali ke meja konsultasi untuk memberitahukan hasilnya.

“Selamat ya, Ibu positif hamil 4 minggu”. Katanya tersenyum padaku.

“Ha… hamil dok? 4 Minggu?” Kataku kaget serasa tak percaya.

“Iya Bu, memangnya kenapa?” Tanyanya lagi.

“Tapi usia saya udah 45 dok, gimana nanti resikonya?” Tanyaku agak panik.

“Udah Ibu tenang aja, memang sih dari segi medis usia Ibu memang usia yang rawan untuk hamil. Tapi asalkan Ibu bisa jaga kesehatan terus asupan gizinya cukup insyaallah bayinya bakalan lahir sehat kok kayak bayi-bayi lainnya”.

“Oh gitu ya dok, Ok kalo gitu saya permisi dulu ya”. Pamitku padanya menuju pintu keluar.

“Iya Ibu, jangan lupa kasih tahu suami ya hihihihi”. Sahut sang dokter tertawa kecil seraya meledekku.

Setelah keluar dari kamar periksa perasaanku pun campur aduk. “Anak siapa bayi yang kukandung ini? Apakah anak Alvin atau anak Papanya? Kalo dilihat dari intensitas hubungan seksual jelas aku lebih sering melakukannya dengan Alvin dibandingkan dengan Papanya. Apalagi sebagai anak muda jelas sperma Alvin jauh lebih banyak dan lebih kental dibandingkan Papanya yang lebih encer dan lebih sedikit spermanya.

“Ma, tadi kata dokter kenapa?” Tanyanya padaku.

“Gak apa-apa, kita ngomongnya di mobil aja ya”. Kataku sambil menarik tangannya untuk berdiri.

Kami pun keluar dari pintu rumah sakit menuju parkiran mobil. Saat sudah masuk mobil dan menyalakan mesin dan AC Alvin pun bertanya kembali padaku.

“Ma, tadi gimana kata dokter”. Tanyanya kembali dengan nada khawatir.

“Vin, sebenarnya Mama…”. Kataku dengan nada tertahan.

“Iya, Mama kenapa ayo ngomong”. Desaknya padaku.

“Mama hamil Vin”. Kataku sambil mengambil tangannya lalu meletakkannya di atas perutku.

“Apa? Hamil? Kok bisa? Terus itu anak siapa? Anakku atau anak Papa?” Tanyanya padaku dengan nada tak percaya.

“Iya Mama hamil Vin. Walaupun umur Mama udah 45 tapi Mama masih rutin menstruasi. Mama yakin ini anak kamu soalnya kamu paling sering gituin Mama dibandingkan Papa. Apalagi sperma kamu jauh lebih banyak dan lebih kental dibandingkan punya Papa. Mama yakin kamu jauh lebih subur dibandingkan Papa kamu”.

“Ma, maafin aku Ma. Aku gak bermaksud buat hamilin Mama, niat awalku cuma buat senang-senang aja main sama Mama hiks hiks hiks”. Katanya meminta maaf dan menangis di perutku.

“Udah Vin, kamu gak usah merasa bersalah gitu. Lagipula Mama juga sebenarnya pengen punya anak perempuan dari dulu. Ya semoga aja anak yang ada di perut Mama ini perempuan”. Kataku sambil mengusap kepalanya dengan lembut.

“Ma, aku sayang Mama CUPP”. Katanya mencium bibirku dengan lembut

“Yaudah kalo gitu kita keluar dari rumah sakit sekarang ya sekalian cari makan siang”. Kataku sambil melepaskan ciumannya pada bibirku dan mengajaknya untuk makan siang.

Akhirnya kami pun pergi dari rumah sakit dan mencari restoran terdekat untuk makan siang.